Postingan

Cerpen Jejak yang Tak Kasat Mata.

Cerpen Jejak yang Tak Kasat Mata.   Hujan sore itu turun pelan, mengetuk kaca jendela kamar yang sudah berbulan-bulan jarang kubuka. Di sudut ruangan itu, aku duduk diam menatap tetesan air yang meluncur turun, seolah mengikuti jejak waktu yang berlalu begitu saja tanpa ada yang benar-benar kulewati dengan utuh. Orang-orang di luar sana mungkin mengira aku baik-baik saja. Senyumku masih sama, suaraku terdengar biasa, tanganku masih mampu melakukan segala hal yang biasa kulakukan. Tidak ada luka terbuka, tidak ada darah yang menetes, tidak ada perban yang menutupi bagian tubuh mana pun. Namun, hanya aku yang tahu betapa hancurnya diriku di dalam, betapa dalamnya luka yang tertanam, dan betapa beratnya langkah yang harus kuambil setiap hari hanya untuk tetap bernapas. Luka yang tidak terlihat memang begitu sifatnya; ia tidak meminta perhatian, tidak mengundang belas kasihan, tapi ia memakan perlahan-lahan seluruh bagian diriku yang dulu pernah utuh dan bahagia.   Semua bermula s...

Cerpen Malam 13 Mei 2026.

Cerpen Malam 13 Mei 2026.   Malam itu, angin bertiup dingin menyusup lewat celah-celah jendela yang tidak tertutup rapat, terlihat hujan yang mulai turun perlahan membasahi bumi. Di sudut ruangan yang remang remang, aku duduk diam, menatap kosong ke arah dinding seolah di sana terlukis kembali semua jejak langkah hidupku yang telah berlalu. Sepanjang hidupku, satu hal yang tak pernah hilang dari ingatanku yaitu nama-Mu. Pagi, siang, hingga malam berganti, bibirku tak pernah berhenti menyebut-Mu. Aku selalu datang kepada-Mu membawa segenggam doa yang kupintal dengan sepenuh hati, membawa harapan yang kugantungkan setinggi langit, dan menyerahkan seluruh hidupku, segala yang kumiliki dan yang ada padaku, semuanya kuserahkan ke dalam genggaman tangan-Mu.   Keyakinanku pada-Mu telah menjadi akar yang tertanam begitu dalam di jiwaku, jauh lebih dalam daripada keyakinanku pada diriku sendiri, pada akal pikiranku, atau pada kekuatanku sendiri. Bahkan saat hidup menekanku dari segala ...

Cerpen Senja di Sudut Kota

Cerpen Senja di Sudut Kota. Langit di sudut kota mulai berubah menjadi oranye, seolah-olah seseorang telah menyiramkan cat warna ke seluruh ufuk. Sinar matahari sore yang miring membelok, menyelinap di antara celah-celah gedung tinggi, lalu memantul ke kaca-kaca jendela hingga memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan lembut. Jalanan yang sejak pagi riuh oleh deru kendaraan dan langkah kaki yang terburu-buru, perlahan mulai kehilangan keramaiannya. Kendaraan melaju lebih pelan, orang-orang berjalan dengan langkah yang tidak lagi tergesa, seolah seluruh dunia sepakat untuk melambat seiring turunnya matahari ke peraduannya. Di sudut jalan yang bersimpangan, tempat di mana dua jalan utama bertemu dan membentuk segitiga kecil, berdiri sebuah bangunan tua yang kini berubah menjadi kafe bernuansa klasik. Dindingnya berwarna krem yang agak pudar, dihiasi bingkai-bingkai foto hitam putih pemandangan kota tempo dulu, dan di bagian luarnya tergantung sebuah papan nama kayu bertuliskan “Kafe Se...

Cerpen Malam Gelap Jiwa.

Cerpen Malam Gelap Jiwa.   Aku sedang berada di fase paling sunyi dalam hidupku. Fase di mana segala sesuatu terasa berjalan lambat, seolah waktu sendiri ikut berhenti sejenak untuk menatap luka yang menganga di hatiku. Di luar sana, dunia masih berputar seperti biasa. Matahari terbit dan terbenam, orang-orang berlalu-lalang dengan tawa dan cerita mereka, angin tetap berhembus menyapa dedaunan, dan suara kendaraan di jalan raya masih terdengar bising memecah keheningan. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, rasanya aku seperti berdiri sendirian di sebuah pulau yang terpisah jauh dari peradaban. Jiwaku tertinggal di sebuah titik, di sebuah peristiwa, di sebuah kehilangan yang begitu dalam, yang tak mampu dijelaskan oleh seribu kata-kata indah ataupun seribu deretan kalimat panjang. Bahasa manusia terasa terlalu kecil dan sempit untuk menampung betapa hancurnya rasanya saat itu.   Ini bukan sekadar sedih. Bukan hanya perasaan melankolis yang datang dan pergi sesuai suasana hati. Buk...

Cerpen Di Antara Kobaran Api dan Doa.

Cerpen Di Antara Kobaran Api dan Doa.   Waktu seolah berhenti berdetak tepat pukul 19.03, tanggal 18 Mei 2026. Di hadapanku, api berkobar lurus ke atas, menjilat langit dengan cahaya merah yang menyakitkan mata. Panasnya terasa menembus kulit, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang sedang tercabut dari dalam dadaku. Di dalam kobaran itu, terbaring raga anakku, yang perlahan-lahan, sepotong demi sepotong, kembali menyatu dengan semesta yang dulu menitipkannya padaku. Setiap kali nyala api membesar, aku merasa ada sebagian diriku yang ikut runtuh, hancur menjadi butiran abu halus yang kemudian terbang terbawa angin, menjauh, menghilang ke dalam gelap yang luas.   Aku selalu berpikir, sebagai seorang ayah, aku harus menjadi sosok yang paling siap menghadapi segala hal. Aku belajar cara menggendongnya saat masih bayi agar kepalanya yang lembut tidak terguncang, belajar cara menenangkannya saat menangis di tengah malam, belajar cara berdiri tegar saat ia jatuh, juga bel...

Cerpen Sampai Bertemu Lagi dalam Cinta

Cerpen Sampai Bertemu Lagi dalam Cinta.   Langkah kakiku terasa berat saat meninggalkan halaman rumahmu sore itu. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang membias di antara dedaunan, seolah langit pun ikut merasakan keperihian perpisahan yang sedang kita lalui berdua. Di beranda rumah itu, kau berdiri diam menatapku, matamu yang biasa berbinar penuh tawa kini tampak berkaca-kaca, menahan butiran air mata yang berjuang agar tidak jatuh membasahi pipi. Kita berdua sama-sama tahu, momen ini pasti akan tiba. Kita sudah membicarakannya berkali-kali, melewati malam-malam panjang dengan obrolan yang penuh pertimbangan, meyakinkan satu sama lain bahwa ini adalah jalan terbaik, jalan yang harus kita tempuh demi masa depan masing-masing, demi mimpi-mimpi yang belum sempat kita raih. Namun, sekeras apa pun kita berusaha bersikap tegar, sekuat apa pun kita berjanji untuk tidak bersedih, tetap saja rasanya ada bagian dari diriku yang ikut tertinggal di sana, terikat era...

Cerpen Di Tengah Badai, Aku Masih Bertahan.

Cerpen Di Tengah Badai, Aku Masih Bertahan.   Aku pernah berpikir dengan sangat yakin, bahwa apa yang sedang melanda hidupku ini hanyalah sebuah badai biasa yang hanya akan singgah sebentar. Seperti hujan deras yang sering turun di sore hari, aku membayangkan awan kelabu itu akan lewat, angin kencang itu akan mereda, dan tak lama kemudian langit akan kembali cerah, matahari bersinar lagi seperti sedia kala, dan segala sesuatu akan kembali berjalan wajar seperti sebelum semuanya berubah. Aku bersiap menunggu, berpikir bahwa aku hanya butuh sedikit kesabaran, sedikit waktu, dan segalanya akan berakhir baik-baik saja. Namun kenyataan berkata lain. Hari demi hari berlalu, berganti menjadi minggu, lalu berbulan-bulan, dan badai itu sama sekali tidak pergi. Ia justru tumbuh semakin besar, semakin dahsyat, anginnya bertiup semakin dingin menusuk sampai ke tulang sumsum, dan ia tinggal semakin lama, menetap begitu saja di tengah-tengah hidupku, seolah memiliki hak penuh untuk menduduki set...