Cerpen Jejak yang Tak Kasat Mata.
Cerpen Jejak yang Tak Kasat Mata. Hujan sore itu turun pelan, mengetuk kaca jendela kamar yang sudah berbulan-bulan jarang kubuka. Di sudut ruangan itu, aku duduk diam menatap tetesan air yang meluncur turun, seolah mengikuti jejak waktu yang berlalu begitu saja tanpa ada yang benar-benar kulewati dengan utuh. Orang-orang di luar sana mungkin mengira aku baik-baik saja. Senyumku masih sama, suaraku terdengar biasa, tanganku masih mampu melakukan segala hal yang biasa kulakukan. Tidak ada luka terbuka, tidak ada darah yang menetes, tidak ada perban yang menutupi bagian tubuh mana pun. Namun, hanya aku yang tahu betapa hancurnya diriku di dalam, betapa dalamnya luka yang tertanam, dan betapa beratnya langkah yang harus kuambil setiap hari hanya untuk tetap bernapas. Luka yang tidak terlihat memang begitu sifatnya; ia tidak meminta perhatian, tidak mengundang belas kasihan, tapi ia memakan perlahan-lahan seluruh bagian diriku yang dulu pernah utuh dan bahagia. Semua bermula s...