Cerpen Di Antara Kobaran Api dan Doa.

Cerpen Di Antara Kobaran Api dan Doa.
 
Waktu seolah berhenti berdetak tepat pukul 19.03, tanggal 18 Mei 2026. Di hadapanku, api berkobar lurus ke atas, menjilat langit dengan cahaya merah yang menyakitkan mata. Panasnya terasa menembus kulit, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang sedang tercabut dari dalam dadaku. Di dalam kobaran itu, terbaring raga anakku, yang perlahan-lahan, sepotong demi sepotong, kembali menyatu dengan semesta yang dulu menitipkannya padaku. Setiap kali nyala api membesar, aku merasa ada sebagian diriku yang ikut runtuh, hancur menjadi butiran abu halus yang kemudian terbang terbawa angin, menjauh, menghilang ke dalam gelap yang luas.
 
Aku selalu berpikir, sebagai seorang ayah, aku harus menjadi sosok yang paling siap menghadapi segala hal. Aku belajar cara menggendongnya saat masih bayi agar kepalanya yang lembut tidak terguncang, belajar cara menenangkannya saat menangis di tengah malam, belajar cara berdiri tegar saat ia jatuh, juga belajar cara menjadi tempat berlindung saat dunia terasa keras baginya. Namun tak ada satu pun pelajaran yang pernah mengajarkanku bagaimana caranya siap melihat anak yang dulu aku gendong dengan penuh harap dan mimpi-mimpi indah, kini harus dilepas selamanya di tengah nyala api dan doa-doa. Tanganku yang dulu begitu kuat menggendongnya, kini terasa lemas dan dingin, seolah tenagaku ikut tersedot habis bersama kehidupan yang telah pergi dari raga anakku.
 
Di sekelilingku, suara gamelan bergema dengan irama yang khas, menciptakan suasana sakral yang mendalam. Para pendeta melantunkan mantra-mantra, kata-kata suci yang menjadi jembatan bagi jiwa untuk menuju kedamaian yang abadi. Asap putih dan kelabu membubung tinggi, berputar-putar di udara, membawa serta harapan, doa, dan seluruh rasa sayang yang tersisa. Bagi orang lain, ini adalah upacara perpisahan yang indah dan bermakna, sebuah prosesi suci yang memuliakan kepergian seseorang. Namun bagiku, di balik setiap dentingan alat musik dan setiap potongan kalimat mantra, dunia terasa seperti berhenti berputar sepenuhnya. Tak ada lagi suara burung, tak ada lagi bisikan angin, tak ada lagi suara hiruk-pikuk kehidupan di luar sana. Yang ada hanya kesunyian yang begitu keras, bergema di telinga dan di kepala, menutupi segalanya. Dan di dalam kesunyian itu, rasa kehilangan terasa begitu nyata, begitu berat, menekan dadaku seolah ada beban raksasa yang diletakkan di sana, membuat napasku terasa pendek dan sulit ditarik.
 
Namun, di tengah kepedihan yang merobek hati, di tengah asap dan kobaran yang menyakitkan itu, aku juga merasakan sesuatu yang lain. Ada cinta yang untuk terakhir kalinya aku antarkan kepadanya dengan cara yang paling suci, paling murni, dan paling tulus. Api itu memang memiliki kekuatan untuk membakar segala sesuatu yang terbuat dari raga dan daging. Ia bisa mengubah tubuh yang dulu hangat dan berdenyut itu menjadi abu, menjadi debu, menjadi bagian dari tanah dan udara kembali. Tapi aku tahu satu hal yang pasti: api itu tidak akan pernah mampu membakar apa yang tersimpan di dalam hatiku. Ia tidak bisa menyentuh kenanganku tentang anakku. Ia tidak bisa memadamkan ingatan akan tawanya yang renyah, yang dulu sering memenuhi setiap sudut rumah dan membuat hari-hariku terasa begitu berwarna. Ia tidak bisa menghapus suaranya, cara ia memanggilku dengan sebutan yang paling aku rindukan, cara ia bercerita panjang lebar tentang hal-hal kecil yang menurutnya begitu penting. Api itu juga tidak bisa menghapus ingatan akan langkah kakinya, cara ia berlari kecil saat masih balita, cara ia berjalan tegap saat mulai tumbuh remaja, dan setiap gerak-gerik kecil yang menjadikannya sosok yang begitu unik, begitu berharga, dan tak tergantikan.
 
Semua bagian kecil itu, segala hal yang membuatnya menjadi dirinya, semuanya tetap hidup di dalam dadaku, tertanam kuat, tumbuh bersama setiap detak jantungku. Aku tahu, mungkin malam-malam setelah hari ini akan terasa sangat panjang dan sepi. Dinding rumah yang dulu terasa hangat kini akan terasa dingin dan kosong. Sudut-sudut ruangan yang dulu penuh dengan barang-barang miliknya, jejak kehadirannya, kini hanya akan menyisakan bayang-bayang yang menyayat hati. Aku tahu dada ini masih akan terasa sesak, masih akan terasa sakit setiap kali ingatanku kembali melayang ke arah kobaran api itu, ke arah momen di mana aku harus melepaskannya untuk selamanya. Air mata mungkin masih akan jatuh diam-diam saat aku sendirian, saat tak ada orang lain yang melihat kelemahanku.
 
Tapi ada satu hal yang membuatku tetap bisa berdiri di sini, menatap api itu sampai nyalanya mulai mereda. Cinta seorang ayah tidak ikut habis menjadi abu. Ia tidak terbawa angin, tidak hilang terbakar panas, tidak lenyap bersama waktu. Cinta itu menetap. Ia diam-diam hidup di setiap doa yang aku panjatkan setiap hari, di setiap rindu yang datang tak terduga, dan di setiap langkah yang akan aku ambil ke depannya. Bagian dari diriku memang runtuh hari ini, tapi bagian yang lain justru tumbuh menjadi kekuatan baru untuk terus mengingatnya, untuk terus membawanya di dalam hati ke mana pun aku pergi.
 
Dan saat asap terakhir mulai menghilang ke dalam langit malam yang kelam, aku mengangkat wajah, menatap ke atas, ke tempat yang tak bisa dijangkau oleh mata manusia, ke tempat di mana jiwa-jiwa yang dicintai pergi. Aku berbisik di dalam hati, mengirimkan pesan terakhir yang penuh harap: Semoga anakku kini telah bebas. Bebas dari segala rasa sakit yang pernah ia rasakan selama hidupnya. Bebas dari segala rasa takut yang pernah menghantuinya. Bebas dari segala beban dan kesusahan duniawi yang harus ia tanggung. Dan semoga, di sana, di tempat yang indah dan damai itu, ia sedang dipeluk oleh kedamaian yang jauh lebih besar daripada segala kesedihan yang pernah ada di dunia ini. Di sana, aku yakin, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti, dan saat itu, tak ada lagi perpisahan, tak ada lagi kobaran api, dan tak ada lagi rasa kehilangan. Hanya cinta yang abadi, yang telah menunggu, dan yang akan menyatukan kita kembali selamanya.

Komentar