Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2026

Cerpen Percakapan Sunyi Bersama Sang Pencipta

Cerpen Percakapan Sunyi Bersama Sang Pencipta.   Ada satu tempat di mana tidak ada suara bising dunia, tidak ada tatapan mata orang lain, dan tidak ada penilaian apa pun. Di tempat itu, hanya ada engkau dan Dia. Hanya ada dua kehadiran: jiwa yang kecil, dan Sang Maha Besar. Itulah momen sakral yang disebut percakapan sunyi dengan Tuhan. Bukan percakapan yang menggunakan suara keras, bukan percakapan yang membutuhkan mikrofon atau mimbar, melainkan dialog hening yang terjadi di ruang terdalam dari relung hati sendiri.   Seringkali kita datang kepada-Nya hanya saat kita membutuhkan sesuatu. Saat sakit, saat susah, saat butuh uang, atau saat takut. Kita berbicara dengan nada memohon, berdesak-desakan dengan ribuan permintaan, seolah-olah Tuhan itu kasir toko yang harus melayani pesanan kita. Padahal, percakapan yang paling indah justru terjadi saat kita datang dengan tangan kosong. Datang bukan untuk meminta, tapi untuk berbagi rasa. Datang bukan karena takut dihukum, tapi karena...

Cerpen Percakapan Sunyi di Ruang Terdalam.

Cerpen Percakapan Sunyi di Ruang Terdalam.   Di tengah riuh rendah dunia yang tak pernah lelah berteriak, di tengah hiruk pikuk masalah yang seolah tak ada habisnya, ada satu tempat yang selalu tenang. Tempat itu tidak membutuhkan tiket mahal, tidak membutuhkan perjalanan jauh, dan tidak membutuhkan siapa pun untuk menemani. Tempat itu ada di dalam dirimu sendiri. Di sanalah terjadi percakapan paling agung, paling intim, dan paling menyembuhkan yang pernah ada: percakapan sunyi antara jiwa yang kecil dengan Sang Pencipta Yang Maha Besar.   Banyak orang mengira berbicara dengan Tuhan itu harus dengan suara lantang, harus dengan bahasa yang indah dan bertele-tele, atau harus menunggu saat-saat tertentu di tempat ibadah. Padahal, percakapan yang paling sejati justru terjadi saat mulut terkatup rapat, dan hanya hati yang berbicara. Itu adalah dialog hening di mana tidak ada pendengar lain selain Dia. Tidak ada yang menilai, tidak ada yang mencela, dan tidak ada yang menyalahkan. D...

Cerpen Titik Terendah.

Cerpen Titik Terendah. Hujan di luar turun dengan deras, seolah ikut menangisi apa yang sedang terjadi di dalam ruangan sempit ini. Aku duduk di lantai dingin, bersandar pada dinding yang mulai berlumut di sudut kamar kosan. Di hadapanku, berserakan kertas-kertas yang dulunya adalah rencana indah tentang masa depan, kini hanya menjadi sampah tak berguna.   Tiga bulan lalu, aku masih menjadi orang yang orang lain sebut "beruntung". Memiliki pekerjaan dengan gaji yang cukup besar, hubungan yang terlihat sempurna, dan tabungan yang mulai terkumpul untuk membeli rumah impian. Dunia terasa begitu ramah, dan aku berpikir bahwa aku sudah menguasai segalanya. Aku lupa bahwa hidup ini seperti roda, kadang di atas, dan takdir berkata lain, kadang ia berputar sangat cepat hingga menjatuhkan dengan keras.   Semuanya berawal ketika perusahaan tempatku bekerja mengalami kebangkrutan. PHK massal itu datang tanpa aba-aba. Dalam sekejap, status "karyawan tetap" hilang, berganti deng...