Cerpen Percakapan Sunyi Bersama Sang Pencipta

Cerpen Percakapan Sunyi Bersama Sang Pencipta.
 
Ada satu tempat di mana tidak ada suara bising dunia, tidak ada tatapan mata orang lain, dan tidak ada penilaian apa pun. Di tempat itu, hanya ada engkau dan Dia. Hanya ada dua kehadiran: jiwa yang kecil, dan Sang Maha Besar. Itulah momen sakral yang disebut percakapan sunyi dengan Tuhan. Bukan percakapan yang menggunakan suara keras, bukan percakapan yang membutuhkan mikrofon atau mimbar, melainkan dialog hening yang terjadi di ruang terdalam dari relung hati sendiri.
 
Seringkali kita datang kepada-Nya hanya saat kita membutuhkan sesuatu. Saat sakit, saat susah, saat butuh uang, atau saat takut. Kita berbicara dengan nada memohon, berdesak-desakan dengan ribuan permintaan, seolah-olah Tuhan itu kasir toko yang harus melayani pesanan kita. Padahal, percakapan yang paling indah justru terjadi saat kita datang dengan tangan kosong. Datang bukan untuk meminta, tapi untuk berbagi rasa. Datang bukan karena takut dihukum, tapi karena rindu akan kehadiran-Nya yang menenangkan.
 
Dalam keheningan itu, barulah kita sadar betapa rendahnya diri ini. Kita duduk, menunduk, dan merasakan keagungan-Nya yang meliputi seluruh semesta. Di sana, kita bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya. Kita tidak perlu berpura-pura kuat, tidak perlu berpura-pura tegar, dan tidak perlu menyembunyikan air mata. Di hadapan-Nya, kita boleh menangis, kita boleh mengeluh, dan kita boleh berkata jujur betapa lelahnya kita menjalani hidup ini.
 
Dan anehnya, saat kita mulai membuka mulut dalam hati, menjelaskan segala keluh kesah, pertanyaan, dan keraguan, Tuhan tidak selalu menjawab dengan suara. Dia menjawab dengan kedamaian. Dia menjawab dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah, dengan ketenangan yang tiba-tiba menyelimuti dada, dan dengan keyakinan yang muncul entah dari mana bahwa "semuanya akan baik-baik saja". Itu adalah bahasa cinta yang tidak perlu kata-kata. Itu adalah getaran jiwa yang saling menyapa.
 
Di saat itulah terjadi pertukaran energi yang ajaib. Kita memberikan-Nya kekhawatiran, dan Dia memberikan kita ketabahan. Kita memberikan-Nya ketidaktahuan, dan Dia memberikan kita kebijaksanaan. Kita datang dengan hati yang hancur, dan kita pergi dengan hati yang utuh kembali. Percakapan ini mengajarkan kita bahwa kita tidak pernah sendirian. Selama nafas masih berhembus, Tuhan selalu ada, lebih dekat dari urat leher sendiri, siap mendengar setiap bisikan hati yang tulus.
 
Banyak jawaban yang selama ini kita cari berlarian ke sana kemari, ternyata jawabannya ada di dalam diam itu. Banyak masalah yang terasa rumit dan ruwet, saat dibawa dalam percakapan sunyi, perlahan menjadi jelas arahnya. Karena di hadapan Sang Cahaya, segala kegelapan ketidaktahuan akan lenyap dengan sendirinya.
 
Maka, luangkanlah waktu. Cari sudut paling tenang di dalam dirimu. Tutup matamu, dan mulailah berbicara. Ceritakan segalanya. Ceritakan tentang mimpi-mimpimu, tentang ketakutanmu, tentang orang-orang yang kamu sayangi, dan tentang rasa syukurmu. Biarkan dialog itu mengalir begitu saja. Rasakan kehadiran-Nya yang hangat memelukmu. Dan ketika kamu membuka mata kembali, kamu akan merasa seperti sudah mandi keramat. Jiwamu bersih, pikiranmu jernih, dan hatimu siap kembali melangkah di dunia yang ramai ini, karena kamu tahu, Dia selalu bersamamu dalam setiap detak jantungmu.

Komentar