Cerpen Percakapan Sunyi di Ruang Terdalam.

Cerpen Percakapan Sunyi di Ruang Terdalam.
 
Di tengah riuh rendah dunia yang tak pernah lelah berteriak, di tengah hiruk pikuk masalah yang seolah tak ada habisnya, ada satu tempat yang selalu tenang. Tempat itu tidak membutuhkan tiket mahal, tidak membutuhkan perjalanan jauh, dan tidak membutuhkan siapa pun untuk menemani. Tempat itu ada di dalam dirimu sendiri. Di sanalah terjadi percakapan paling agung, paling intim, dan paling menyembuhkan yang pernah ada: percakapan sunyi antara jiwa yang kecil dengan Sang Pencipta Yang Maha Besar.
 
Banyak orang mengira berbicara dengan Tuhan itu harus dengan suara lantang, harus dengan bahasa yang indah dan bertele-tele, atau harus menunggu saat-saat tertentu di tempat ibadah. Padahal, percakapan yang paling sejati justru terjadi saat mulut terkatup rapat, dan hanya hati yang berbicara. Itu adalah dialog hening di mana tidak ada pendengar lain selain Dia. Tidak ada yang menilai, tidak ada yang mencela, dan tidak ada yang menyalahkan. Di sana, engkau boleh menjadi apa adanya. Engkau boleh menjadi rapuh, engkau boleh menjadi bodoh, dan engkau boleh menjadi sedih.
 
Bayangkanlah, engkau duduk bersimpuh, atau bahkan berbaring dengan perasaan yang campur aduk. Lalu perlahan, engkau mulai membuka percakapan itu. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan getaran rasa.
 
Engkau berkata dalam diam:
"Tuhan, aku lelah. Rasanya beban di pundak ini sudah terlalu berat untuk ditanggung sendiri. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, aku sudah berjalan sejauh ini, tapi kadang aku tak mengerti ke mana arahnya. Kenapa jalan yang kupilih terasa begitu terjal? Kenapa orang yang kucintai harus menyakiti? Kenapa rezeki yang kunanti tak kunjung tiba?"
 
Di saat engkau melontarkan semua pertanyaan itu, engkau tidak mendengar suara guntur yang menjawab. Tidak ada suara yang datang dari langit. Tapi anehnya, ada kedamaian yang perlahan merayap masuk ke dalam dada. Seperti seseorang yang menepuk bahumu dengan sangat lembut dan berkata, "Aku tahu anak-Ku. Aku melihat air matamu yang jatuh diam-diam. Aku mendengar setiap keluh kesahmu, meski tak sepatah kata pun terucap."
 
Itulah cara Tuhan menjawab. Dia menjawab dengan ketenangan. Dia menjawab dengan keyakinan tiba-tiba bahwa engkau tidak sendirian.
 
Kemudian percakapan itu berlanjut. Engkau mulai menumpahkan segalanya.
"Tuhan, aku takut. Aku takut gagal, aku takut ditinggalkan, aku takut tidak cukup baik."
 
Dan dalam sunyi itu, engkau merasakan jawaban-Nya:
"Mengapa engkau takut? Bukankah Aku yang menciptakan engkau? Bukankah Aku yang menjaga detak jantungmu setiap detik ini? Serahkanlah ketakutanmu itu kepada-Ku. Biarkan Aku yang memikulnya, karena hanya Aku yang sanggup menanggungnya. Engkau cukup berjalan, sisanya biarkan Aku yang mengatur."
 
Di momen itu, engkau sadar bahwa berbicara dengan Tuhan bukanlah transaksi. Bukan soal "aku berdoa, Engkau beri". Tapi lebih dari itu, ini adalah soal kebersamaan. Ini adalah saat di mana jiwa yang rindu pulang kembali ke asalnya. Engkau menceritakan tentang mimpi-mimpimu yang besar, tentang harapan-harapanmu yang masih tersimpan rapi, dan tentang rasa syukurmu atas hal-hal kecil yang sering terlupa.
 
Engkau berkata:
"Terima kasih Tuhan, untuk napas pagi ini. Terima kasih untuk mata yang masih bisa melihat, kaki yang masih bisa melangkah, dan hati yang masih bisa merasakan. Maafkan aku yang sering kali mengeluh, padahal Engkau sudah memberikan begitu banyak nikmat yang tak terhitung jumlahnya."
 
Dan saat rasa syukur itu keluar, rasanya seperti bunga yang mekar di dalam hati. Cahaya keemasan memenuhi ruang pikiranmu. Segala kekusutan yang tadinya terasa rumit, perlahan menjadi terurai. Masalah yang tadinya terlihat seperti gunung tinggi, kini terlihat kecil karena engkau sadar ada Tuhan yang jauh lebih besar dari masalah itu.
 
Percakapan sunyi ini mengajarkanmu bahwa Tuhan itu sangat dekat. Lebih dekat daripada urat lehermu sendiri. Dia tidak berada jauh di atas awan menunggu engkau memanggil dengan keras. Dia ada di sini, tepat di dalam relung hatimu, mendengarkan setiap getaran rasa yang engkau kirimkan.
 
Terkadang, Dia tidak langsung mengabulkan apa yang engkau minta, tapi Dia memberikan kekuatan untuk melewatinya. Terkadang Dia tidak mengubah situasinya, tapi Dia mengubah caramu memandang situasi itu menjadi lebih bijak dan lapang dada.
 
Jadi, biarkanlah percakapan itu mengalir terus. Jangan diputus. Ceritakanlah segalanya. Biarkan air mata menjadi kata-kata, biarkan senyum menjadi pujaan, dan biarkan keheningan menjadi bahasa cinta yang paling indah. Karena di dalam diam itulah, engkau menemukan kembali dirimu, dan engkau menemukan kembali kasih sayang-Nya yang tak pernah putus, selamanya.

Komentar