Cerpen Malam 13 Mei 2026.

Cerpen Malam 13 Mei 2026.
 
Malam itu, angin bertiup dingin menyusup lewat celah-celah jendela yang tidak tertutup rapat, terlihat hujan yang mulai turun perlahan membasahi bumi. Di sudut ruangan yang remang remang, aku duduk diam, menatap kosong ke arah dinding seolah di sana terlukis kembali semua jejak langkah hidupku yang telah berlalu. Sepanjang hidupku, satu hal yang tak pernah hilang dari ingatanku yaitu nama-Mu. Pagi, siang, hingga malam berganti, bibirku tak pernah berhenti menyebut-Mu. Aku selalu datang kepada-Mu membawa segenggam doa yang kupintal dengan sepenuh hati, membawa harapan yang kugantungkan setinggi langit, dan menyerahkan seluruh hidupku, segala yang kumiliki dan yang ada padaku, semuanya kuserahkan ke dalam genggaman tangan-Mu.
 
Keyakinanku pada-Mu telah menjadi akar yang tertanam begitu dalam di jiwaku, jauh lebih dalam daripada keyakinanku pada diriku sendiri, pada akal pikiranku, atau pada kekuatanku sendiri. Bahkan saat hidup menekanku dari segala arah, saat badai masalah datang bertubi-tubi seolah ingin merobohkan segala yang kupunya, aku tetap berdiri teguh menjaga imanku. Aku tidak pernah goyah. Aku bersujud di hadapan-Mu dengan ketulusan yang murni, mencintai-Mu tanpa syarat apa pun, dan melayani-Mu seumur hidupku tanpa pernah menghitung balasan atau pamrih sedikit pun. Di dalam relung hatiku yang paling sunyi, selalu ada satu keyakinan yang paling kuat dan menenangkan: bahwa apabila hari-hari paling gelap kelak datang melanda, saat aku tak lagi sanggup berjalan sendiri, Engkau tidak akan pernah meninggalkanku. Aku yakin Engkau akan ada di sana, menopangku, dan memberi keajaiban yang kuharapkan. Namun ternyata, keyakinan itulah yang keliru.
 
Hari paling gelap itu akhirnya datang juga, dan ia datang lebih kejam daripada apa pun yang pernah kubayangkan. Saat anakku terbaring lemah di atas tempat tidur itu, saat tubuh kecilnya yang biasa berlari dan tertawa kini diam tak berdaya, saat napasnya mulai melemah sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti menjauh dariku, saat aku berlutut di sampingnya memohon dengan sekuat tenaga, menangis sampai mataku kering dan jiwaku hancur lebur tak bersisa, di saat itulah aku menunggu pertolongan-Mu. Aku memanggil-Mu dengan segala rasa sakit yang ada, memohon agar Engkau mengulurkan tangan-Mu, memohon satu keajaiban saja. Tapi tak ada satu pun keajaiban yang datang. Langit tetap sunyi, dan tak ada jawaban yang terdengar.
 
Aku menunggu-Mu di ruang-ruang doa yang hening, di setiap sudut tempat suci yang selama ini selalu kudatangi dengan penuh harap. Aku mencari jejak belas kasih-Mu di antara suara deru alat-alat rumah sakit yang tajam, di antara ketakutan yang mengguncang dadaku hingga sesak napas, dan di antara air mata yang tak henti mengalir membasahi pipiku. Meski rasa sakit itu begitu menyiksa, aku masih terus percaya. Bahkan saat dunia terasa mulai runtuh dan hancur berantakan tepat di depan kedua mataku, aku masih berpegang teguh pada sisa-sisa harapan bahwa Engkau pasti punya cara, Engkau pasti datang, Engkau pasti menyelamatkan.
 
Namun Engkau tetap diam. Keheningan-Mu terasa begitu berat, begitu menusuk, seolah mematikan segala doa yang pernah kuucapkan seumur hidup.
 
Dan sampai hari ini, berbulan-bulan lamanya setelah semuanya berakhir, aku masih bertanya-tanya dalam kebingungan yang tak berujung: untuk apa semua doa yang telah kupanjatkan, ribuan, jutaan kali sepanjang hidupku, jika pada akhirnya aku tetap dipaksa berdiri di sini, dipaksa menerima kenyataan pahit kehilangan orang yang paling kucintai di dunia ini? Untuk apa aku berserah diri sepenuh jiwa dan raga, untuk apa aku membangun rumah keyakinan yang begitu kokoh di dalam hatiku, jika di saat aku benar-benar hancur lebur, saat aku membutuhkan-Mu lebih dari apa pun, langit hanya memberiku kesunyian yang dingin dan panjang?
 
Aku berkata jujur, Tuhan… aku tidak marah karena hidupku sulit. Aku sudah biasa dengan kesusahan, aku sudah belajar menerima pahit getir kehidupan sebagai bagian dari ujian. Aku tidak marah karena kemiskinan, bukan karena kesakitan pada tubuhku sendiri, dan bukan pula karena kekurangan apa pun. Tapi aku marah karena aku percaya begitu dalam. Aku percaya pada keadilan-Mu, aku percaya pada kasih sayang-Mu, aku percaya bahwa Engkau adalah tempat berlindung yang paling aman. Namun nyatanya, justru di saat aku paling membutuhkan-Mu, di saat aku mempertaruhkan seluruh imanku demi nyawa anakku, aku merasa ditinggalkan sendirian, berdiri tegak namun rapuh, hanya ditemani oleh puing-puing kehancuranku sendiri.
 
Orang-orang di sekitarku, mereka datang, mereka memberi pelukan, mereka mengucapkan kata-kata penghiburan yang menurut mereka indah dan menenangkan. Mereka berkata, “Ini rencana Tuhan.” Mereka berkata, “Ada hikmah di balik semua ini.” Mereka berkata, “Tuhan lebih menyayanginya.”
 
Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tahu bagaimana rasanya. Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya memeluk tubuh anak sendiri yang mulai dingin, yang perlahan berhenti bernapas di pelukanku, sambil menyadari bahwa semua doa yang selama ini kita genggam, semua harapan yang kita bangun, semua keyakinan yang kita jaga, semuanya mati perlahan bersama dirinya. Tidak ada yang mengerti bagaimana rasanya berjuang berdoa sekuat tenaga, namun pada akhirnya tetap harus menerima bahwa Tuhan ternyata mendengar, tapi memilih untuk tidak menjawab.
 
Sejak malam itu, malam tanggal 13 Mei 2026 yang kelam itu, ada sesuatu yang ikut mati di dalam diriku. Bukan hanya bahagiaku yang lenyap ditelan bumi, bukan hanya semangat hidupku yang padam. Tapi yang paling menyakitkan adalah keyakinan itu. Keyakinan yang selama ini kubangun bertahun-tahun dengan penuh cinta, dengan pengabdian, dengan keringat dan air mata, runtuh seketika tak bersisa. Aku merasa kehilangan orang yang aku sayangi. Aku kehilangan arah, aku kehilangan makna hidup, dan yang paling berat… aku kehilangan Tuhan yang selama ini aku percaya tinggal dan bersemayam di dalam setiap doa-doa yang kupanjatkan.
 
Kini aku masih ada di sini, bernapas, berjalan, bergerak seolah masih hidup, namun rasanya seperti hanya menjadi bayangan dari diriku yang dulu. Setiap kali namamu disebut orang lain, hatiku terasa sesak. Setiap kali aku melihat orang lain bersujud dengan wajah yang tenang dan penuh harap, aku hanya bisa diam. Aku tidak lagi tahu harus percaya pada apa atau siapa. Aku hanya tahu, bahwa di balik segala ketenangan yang Kau tunjukkan malam itu, ada hati manusia yang hancur berkeping-keping, dan di antara kepingan itu, hilang sudah jejak kepercayaanku kepada-Mu.

Komentar