Cerpen Di Tengah Badai, Aku Masih Bertahan.

Cerpen Di Tengah Badai, Aku Masih Bertahan.
 
Aku pernah berpikir dengan sangat yakin, bahwa apa yang sedang melanda hidupku ini hanyalah sebuah badai biasa yang hanya akan singgah sebentar. Seperti hujan deras yang sering turun di sore hari, aku membayangkan awan kelabu itu akan lewat, angin kencang itu akan mereda, dan tak lama kemudian langit akan kembali cerah, matahari bersinar lagi seperti sedia kala, dan segala sesuatu akan kembali berjalan wajar seperti sebelum semuanya berubah. Aku bersiap menunggu, berpikir bahwa aku hanya butuh sedikit kesabaran, sedikit waktu, dan segalanya akan berakhir baik-baik saja. Namun kenyataan berkata lain. Hari demi hari berlalu, berganti menjadi minggu, lalu berbulan-bulan, dan badai itu sama sekali tidak pergi. Ia justru tumbuh semakin besar, semakin dahsyat, anginnya bertiup semakin dingin menusuk sampai ke tulang sumsum, dan ia tinggal semakin lama, menetap begitu saja di tengah-tengah hidupku, seolah memiliki hak penuh untuk menduduki setiap ruang, setiap sudut, dan setiap detik waktu yang kujalani.
 
Aku sudah mencoba sekuat tenaga, sungguh aku sudah berusaha habis-habisan. Saat rasanya tak ada lagi kekuatan tersisa, aku mengais sisa-sisa tenaga yang ada di sudut terdalam ragaku, mengumpulkannya kembali sedikit demi sedikit hanya agar aku bisa tetap berdiri tegak. Aku berusaha menenangkan diri, mengatur napas yang selalu terasa sesak, dan membisikkan kata-kata semangat pada diriku sendiri berulang kali. Aku meyakinkan hatiku, berjanji pada diriku sendiri bahwa semua ini hanya cobaan sementara, bahwa ini akan berlalu, bahwa semua akan baik-baik saja pada akhirnya. Aku mencoba berpikir positif, mencoba melihat sisi terang, mencoba tersenyum meski hatiku sedang menangis, berpikir bahwa dengan begitu badai itu akan merasa bosan dan pergi meninggalkanku. Tapi ternyata, ada rasa lelah yang begitu besar dan mendalam yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata apa pun. Ia bukan kelelahan fisik yang bisa hilang hanya dengan tidur atau istirahat. Bukan pula rasa sakit pada tubuh yang bisa diobati dengan ramuan atau obat. Yang paling terasa sakit dan perih adalah batin ini. Jiwaku perlahan-lahan terasa kosong, rapuh, dan kehilangan tempat untuk bersandar. Tempat-tempat yang dulu selalu menjadi tujuanku untuk beristirahat, tempat yang dulu terasa paling aman dan damai, kini terasa jauh, dingin, dan tak lagi mampu menampung segala beban yang kupikul sendirian.
 
Dan jujur, di dalam hati yang paling dalam, aku menyadari satu hal yang membuatku semakin sedih: aku tidak merasa semakin kuat. Orang-orang bilang cobaan itu akan menempa diri kita menjadi baja, membuat kita semakin tangguh dan hebat. Tapi bagiku, rasanya justru sebaliknya. Aku tidak menjadi lebih keras atau lebih kebal. Aku justru merasa semakin rapuh, semakin mudah terluka, semakin sering menangis, dan semakin takut menghadapi hari esok. Setiap langkah yang kuambil terasa berat dua kali lipat dari sebelumnya. Setiap masalah kecil yang datang terasa sebesar gunung yang sulit kudaki. Aku merasa seperti kaca yang retak di sana-sini, masih utuh bentuknya dan masih bisa dilihat orang lain, tapi sebenarnya sudah tinggal menunggu waktu saja hingga hancur berantakan tak bersisa.
 
Meski begitu, aku tetap berjalan. Aku tetap melangkahkan kaki keluar dari rumah setiap pagi, tetap melakukan apa yang harus kulakukan, tetap berbicara dengan orang-orang di sekitarku, dan tetap mencoba menerima semuanya dengan lapang dada. Aku bertahan, walau rasanya nyaris tak sanggup lagi. Aku tersenyum, walau di balik senyum itu ada ribuan tangis yang tertahan. Aku berusaha terlihat biasa saja, seolah tak ada apa-apa yang sedang terjadi, seolah aku baik-baik saja. Padahal sering kali, saat aku sendirian, saat tak ada mata yang melihat, hatiku diam-diam bertanya pada keheningan, bertanya pada langit yang masih kelabu itu, bertanya pada Sang Pemilik Segala Hidup: “Tuhan… kapan semua ini berakhir? Sampai kapan aku harus bertahan di tengah dingin dan kencangnya angin ini? Sampai kapan aku harus berjalan tanpa melihat ujung jalan?”
 
Mungkin memang ada fase tertentu dalam hidup manusia, di mana kita tidak sedang diuji untuk menjadi hebat, tidak sedang ditempa untuk menjadi kuat, dan tidak sedang disiapkan untuk menjadi juara. Mungkin ada saat-saat di mana satu-satunya ujian yang diberikan hanyalah kemampuan untuk tetap bertahan, sekadar tetap hidup dan terus berjalan, meski hati kita sudah hampir menyerah sepenuhnya. Di saat seperti itu, kita tidak dituntut untuk menang atau memenangkan apa pun, kita hanya diminta untuk tidak tumbang, tidak runtuh, dan tidak hilang ditelan kerasnya keadaan.
 
Dan mungkin juga, hanya di titik paling lemah, paling rapuh, dan paling tidak berdaya inilah manusia akhirnya belajar satu kebenaran besar. Bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dikendalikan oleh kekuatan tenaga kita, tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan logika yang kita punya, dan tidak semua keinginan hati bisa terwujud hanya dengan harapan yang kita genggam. Ada batasnya akal, ada batasnya kemampuan, ada batasnya kekuatan diri sendiri. Di luar itu semua, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang bekerja di balik layar kehidupan.
 
Ada saat-saat di mana kita benar-benar tak berdaya, di mana kita hanya bisa duduk diam di tengah badai yang mengamuk, membiarkan diri kita basah kuyup dan kedinginan, membiarkan air mata mengalir jatuh membasahi pipi dalam diam tanpa suara. Saat itu, saat kita sudah tak punya apa pun lagi untuk dijadikan pegangan, tak punya kekuatan lagi untuk melawan, tak punya harapan lagi untuk digenggam, hanya ada satu hal yang tersisa yang bisa kita lakukan. Kita hanya bisa menengadahkan tangan, memejamkan mata, dan berbisik sangat pelan dengan sisa napas yang ada: “Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi… Aku sudah kehabisan segala cara, kehabisan tenaga, dan kehabisan kata-kata. Tapi tolong, jangan tinggalkan aku sendirian melewati ini. Di tengah badai ini, di dalam kelemahanku ini, aku mohon tetaplah ada di sini, tetaplah bersamaku, dan tuntunlah aku sampai semuanya berlalu.”
 
Dan di doa itulah, aku menemukan satu-satunya kekuatan yang tersisa. Bahwa meski aku rapuh, aku tidak sendirian. Bahwa meski badai ini belum berhenti, Dia yang menahan semesta ada bersamaku. Dan aku percaya, selama Dia tidak pergi, aku pun takkan tumbang, seberat apa pun perjalanan yang masih harus kutempuh.

Komentar