Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Hujan di Pagi Hari

Hujan di Pagi Hari (Made Budilana)   Pagi itu, hujan turun dengan bunyi yang lembut, membangunkan Lina dari tidurnya. Dia bangkit dan mendekati jendela kamar, melihat tetesan air menuruni kaca dan menyegarkan semua pohon di halaman depan rumah. Hari itu adalah hari dia akan mulai bekerja di kantor baru — dan dia merasa gugup seperti anak sekolah yang pertama kali masuk kelas.   Dia mandi, memakai baju kerja yang rapi, dan keluar rumah dengan payung biru yang diwariskan oleh ibunya. Jalanan masih sepi, hanya diisi oleh bunyi hujan dan langkah kaki dia yang pelan. Di persimpangan jalan, dia melihat seorang pria yang sedang kesulitan — payungnya robek, dan dia coba melindungi tas kerja yang terisi dokumen dari hujan.   "Kita berbagi ya?" tanya Lina, mendekati dia dengan senyum. Pria itu terkejut, lalu tersenyum dengan senyum yang ramah. Dia bernama Rizky, dan ternyata juga akan bekerja di kantor yang sama dengan Lina.   Mereka berjalan bersama, berbagi payung biru di te...

Rembulan di Atas Sawah

Rembulan di Atas Sawah (Made Budilana)   Malam itu, rembulan terbit sebesar piring keramik tua, menyinari sawah yang luas di desa Wonosari. Udara terasa segar dan penuh bau tanah basah setelah hujan sore tadi. Siti duduk di atas tebing kecil yang menghadap sawah, menatap cahaya bulan yang memantul di permukaan genangan air.   Dia menunggu Budi, sahabatnya yang sejak kecil selalu bersama dia mengelilingi sawah ini. Budi baru pulang dari kota setelah bekerja selama setahun, dan mereka janji bertemu di tempat favorit mereka — di mana rembulan selalu terlihat paling indah.   "Tunggu lama ya?" suara Budi terdengar dari belakang. Siti memalingkan wajah, melihat dia berdiri dengan senyum yang sama seperti dulu, meskipun rambutnya sudah sedikit terurai dan wajahnya lebih matang.   Mereka berjalan turun ke sawah, kaki mereka menyentuh rumput yang lembap. Rembulan menyinari jalan mereka, membuat semuanya terlihat seperti di dalam khayalan. Mereka berbicara tentang apa yang ter...

Kisah Cinta di Kota Hujan

Kisah Cinta di Kota Hujan (Made Budilana)   Hujan turun seperti larutan lembut yang mencuci semua noda di permukaan aspal Jakarta. Tiap tetesannya membentuk pola yang indah di jendela kafe kecil tempat Rara bekerja sebagai pramugari paruh waktu. Dia suka melihat orang-orang berlari dengan payung yang berwarna-warni, seolah-olah kota menjadi kanvas yang hidup setiap kali langit menangis.   Suatu hari, hujan turun lebih deras dari biasanya. Seorang pria memasuki kafe dengan baju basah kuyup, rambutnya tergeletak lembap di dahinya. Dia meminta secangkir teh hangat dan duduk di meja dekat jendela, tepat di depan Rara. Pria itu bernama Arif, seorang seniman yang baru pindah ke kota untuk mencari inspirasi.   "Kota ini selalu hujan, ya?" tanya Arif sambil menatap jendela.   Rara tersenyum. "Ya, tapi hujan ini yang membuat kota ini memiliki jiwa sendiri. Seperti ada cerita di setiap tetesnya."   Dari hari itu, Arif selalu datang ke kafe pada saat hujan turun. Mereka be...

Cinta Terlarang

Cerpen Cinta Terlarang  (Made Budilana) Hari itu hujan turun deras, membasahi jaket yang saya kenakan saat menunggu di trotoar depan kantin. Ayu muncul dengan senyumnya yang selalu membuat hati berdebar, rambutnya sedikit basah karena lari dari perumahan sebelah. "Maaf telat, suami saya keluar pagi," ucapnya sambil menyikut bahu saya.   Saya tahu itu salah. Ketika pertama kali bertemu di lokasi proyek, saya tidak tahu dia sudah punya suami. Hanya setelah dua bulan bercinta, dia memberitahu bahwa dia dan suaminya sudah lama pisah ranjang—karena pria itu selalu pulang larut malam dengan wanita lain. "Saya merasa sendirian," katanya, matanya meminta belas kasihan. Dan saya, yang terjebak dalam keindahannya, membiarkan hati mengambil alih akal.   Kita bersembunyi di tempat-tempat kecil: kamar hotel yang sempit, taman yang sepi malam hari, bahkan kamar kos saya ketika teman sekamar keluar. Setiap detik bersama terasa seperti anugerah, tapi selalu disertai rasa takut yang...

Asmara di Pantai Tianyar.

Asmara di Pantai Tianyar (Made Budilana)   Hari itu, angin Pantai Tianyar membawa bau garam yang segar dan aroma bunga melati dari pekarangan rumah-rumah di tepi pantai. Lina duduk di atas batu besar yang terkena matahari, memandang ombak yang perlahan menyentuh pasir putih. Ia baru pindah ke Bali dua minggu lalu, bekerja sebagai guru di sekolah negeri di desa terdekat, dan belum pernah merasa sejuk seperti ini di tengah kesibukan hariannya.   Tiba-tiba, suara petik gitar yang lembut meresap ke telinganya. Lina menoleh, melihat seorang pria muda duduk di bangku kayu dekat pantai, tangannya lincah memainkan gitarnya. Rambutnya hitam mengkilap, diterpa angin, dan wajahnya cerah ketika ia menyanyikan lagu daerah yang familiar di telinga Lina.   "Kamu main gitar dengan baik," ujar Lina ketika pria itu berhenti.   Pria itu tersenyum, matanya memantulkan cahaya matahari. "Terima kasih. Nama saya Wira. Saya sering main di sini sore-sore, ketika pantai tidak terlalu ramai."...