Asmara di Pantai Tianyar.

Asmara di Pantai Tianyar
(Made Budilana)
 
Hari itu, angin Pantai Tianyar membawa bau garam yang segar dan aroma bunga melati dari pekarangan rumah-rumah di tepi pantai. Lina duduk di atas batu besar yang terkena matahari, memandang ombak yang perlahan menyentuh pasir putih. Ia baru pindah ke Bali dua minggu lalu, bekerja sebagai guru di sekolah negeri di desa terdekat, dan belum pernah merasa sejuk seperti ini di tengah kesibukan hariannya.
 
Tiba-tiba, suara petik gitar yang lembut meresap ke telinganya. Lina menoleh, melihat seorang pria muda duduk di bangku kayu dekat pantai, tangannya lincah memainkan gitarnya. Rambutnya hitam mengkilap, diterpa angin, dan wajahnya cerah ketika ia menyanyikan lagu daerah yang familiar di telinga Lina.
 
"Kamu main gitar dengan baik," ujar Lina ketika pria itu berhenti.
 
Pria itu tersenyum, matanya memantulkan cahaya matahari. "Terima kasih. Nama saya Wira. Saya sering main di sini sore-sore, ketika pantai tidak terlalu ramai."
 
"Nama saya Lina. Saya baru pindah ke sini."
 
Mulai hari itu, pertemuan mereka menjadi hal yang teratur. Setiap sore, Wira akan menunggu di bangku kayu itu, memainkan gitar untuk Lina. Mereka bercerita tentang mimpi yang indah, kenangan masa muda, dan bagaimana langit di Tianyar selalu terlihat lebih biru pada sore hari. Wira membawanya menjelajahi pantai yang lebih sunyi, memamerkan batu-batu unik yang tertinggal ombak, dan memberitahukan cerita nenek moyang tentang desa ini.
 
Suatu malam, ketika bulan terbenam dan bintang mulai bersinar, Wira mengajak Lina ke bukit kecil di ujung pantai. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh Pantai Tianyar yang tenang, dengan cahaya api dari rumah-rumah yang menyala satu per satu.
 
"Lina," kata Wira, suaranya sedikit gemetar. "Sejak pertama kali melihatmu, saya merasa seperti telah menemukan bagian dari diri saya yang hilang. Apakah kamu mau bersama saya, menjalani hari-hari ke depan di tempat ini?"
 
Lina melihat matanya, penuh harapan dan kebenaran. Dia merasakan getaran di dada, sesuatu yang dia tidak pernah rasakan sebelumnya. Di tengah keheningan malam dan pemandangan indah Tianyar, dia mengangguk.
 
"Ya, Wira. Saya mau."
 
Wira memeluknya erat, dan angin membawa suara nyanyian burung malam yang menyambut asmara mereka. Sejak itu, Pantai Tianyar bukan hanya tempat yang indah bagi mereka, tapi juga tanda awal dari cerita cinta yang akan terus berlanjut, sepanjang ombak yang tidak pernah berhenti menyentuh pantai.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja di Pantai Kapal Tejakula.

Cinta di Bawah Bukit Batu Kursi

Asmara Di Pantai Seririt.