Cinta Terlarang
Cerpen Cinta Terlarang
(Made Budilana)
Hari itu hujan turun deras, membasahi jaket yang saya kenakan saat menunggu di trotoar depan kantin. Ayu muncul dengan senyumnya yang selalu membuat hati berdebar, rambutnya sedikit basah karena lari dari perumahan sebelah. "Maaf telat, suami saya keluar pagi," ucapnya sambil menyikut bahu saya.
Saya tahu itu salah. Ketika pertama kali bertemu di lokasi proyek, saya tidak tahu dia sudah punya suami. Hanya setelah dua bulan bercinta, dia memberitahu bahwa dia dan suaminya sudah lama pisah ranjang—karena pria itu selalu pulang larut malam dengan wanita lain. "Saya merasa sendirian," katanya, matanya meminta belas kasihan. Dan saya, yang terjebak dalam keindahannya, membiarkan hati mengambil alih akal.
Kita bersembunyi di tempat-tempat kecil: kamar hotel yang sempit, taman yang sepi malam hari, bahkan kamar kos saya ketika teman sekamar keluar. Setiap detik bersama terasa seperti anugerah, tapi selalu disertai rasa takut yang mengganjal di tenggorokan. "Kapan kita bisa bebas?" tanya saya satu hari. Ayu hanya terdiam, matanya menatap jauh.
Hari yang mengubah segalanya tiba tanpa peringatan. Saya sedang menunggu di parkiran mall ketika seorang pria tinggi dengan wajah kemerahan mendekat. Dia memegang teleponnya, layarnya menampilkan foto kita yang berpelukan. "Kamu yang bikin istri saya selingkuh?" suaranya keras, mengagetkan orang di sekitar. Saya ingin melarikan diri, tapi kaki saya beku.
Ayu datang tidak lama kemudian, menangis dan memohon maaf. Suaminya tidak mau mendengar apapun—dia hanya mengumumkan bahwa dia akan menceraikannya, dan semua harta akan jatuh ke tangannya. "Ini semua karena kamu!" teriaknya ke arah saya, sambil menunjuk jari. "Kalau kamu berani muncul lagi di depan saya, kamu akan tahu akibatnya."
Setelah itu, semuanya hancur. Ayu diceraikan, dia kehilangan rumah dan pekerjaannya karena gosip yang menyebar. Saya juga mendapatkan ancaman melalui pesan teks, bahkan teman-teman saya disuruh menjauhi saya. Satu malam, Ayu menelepon saya dengan suaranya lemah. "Kita harus berhenti, sayang," katanya. "Semua ini terlalu berat. Saya tidak mau kamu terluka karena saya."
Saya tidak bisa membantah. Hati saya hancur, tapi saya tahu dia benar. Cinta yang kita bina dari awal sudah salah—terlarang, penuh dengan kebohongan, dan hanya membawa penderitaan. Saya menutup telepon, menatap jendela yang hujan lagi turun deras. Di malam itu, saya memahami bahwa sesekali, mencintai seseorang berarti harus melepaskannya.
Komentar
Posting Komentar