Postingan

Asmara Di Kintamani.

Di lereng Gunung Batur, di sebuah desa kecil yang tersembunyi di antara hamparan kebun kol dan sayur hijau yang hijau menyala, tinggal seorang wanita bernama Kadek Ayu. Usianya dua puluh lima tahun, wajahnya seperti bunga melati yang baru mekar di pagi hari, dan tangannya yang kuat telah terbiasa bekerja di kebun milik keluarganya sejak masih muda. Setiap pagi, sebelum matahari mulai memanaskan permukaan tanah Kintamani, dia sudah berada di kebun dengan keranjang rotan di pundaknya, memilih kol terbaik yang berdaging padat dan sayur hijau yang segar. Suara burung yang berkicau dari pepohonan beringin tua menjadi irama hariannya, dan udara segar yang bercampur aroma sayuran segar serta tanah vulkanik selalu membuat hatinya merasa tenang. Hingga suatu pagi, ketika kabut masih menyelimuti bagian atas danau Batur yang luas, dia melihat sosok seorang pria sedang berdiri di tepi sawah, memegang kamera dengan lensa besar, menangkap pemandangan matahari yang mulai muncul dari balik puncak gunu...

Malam Di Kampung Pajarakan.

Aku dan tiga temanku – Rina, Budi, dan Dimas – memutuskan untuk menjelajahi Kampung Pajarakan, desa terpencil di lereng Gunung Agung yang hanya terdengar dari cerita nenek moyang. Jalan hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki dua jam melalui hutan lebat, dan saat kita sampai di pinggir desa menjelang sore, udara jadi sangat dingin, berbeda dengan panasnya Bali siang hari. Tanah lembap berbau tanah basah menyengat, rumah-rumah kayu bambu tua sebagian roboh dan ditutupi lumut hijau pekat. Tak ada satu pun nyala lampu, padahal belum jam delapan malam.   "Kok kayak tidak ada orang ya?" bisik Rina sambil menggenggam lenganku erat. Budi tersenyum sinis. "Mungkin mereka sudah tidur duluan. Ayo cari tempat beristirahat." Kita menemukan rumah besar di tengah desa yang lebih terawat. Pintu kayu sedikit terbuka, dan dari dalam terdengar suara gemericik air yang aneh. Dimas mendorong pintu dan masuk dulu. "Sini cepat! Ada ruangan yang bisa kita gunakan!"   Ketika kita...

Asmara Di Desa Tejakula.

Cerpen Asmara Di Desa Tejakula Oleh Made Budilana  (Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama dan tempat, itu suatu kebetulan belaka. Tidak ada unsur kesengajaan) Di lereng sebelah utara Gunung Batur, di mana sawah hijau membentang seperti kain bersulam dan pepohonan kelapa berdiri tegak seperti penjaga setia, terdapat sebuah desa yang bernama desa Tejakula. Desa yang dikenal dengan tanah suburnya dan keramahan penduduknya ini menyimpan cerita asmara yang telah menjadi legenda di antara warganya.   Pada musim kemarau tahun 1998, ketika matahari mulai menyinari hamparan sawah yang siap untuk dipanen, seorang pemuda bernama Gede sedang membajak tanah bersama ayahnya. Gede berusia dua puluh tahun, tubuhnya kekar akibat bekerja di ladang setiap hari, dan senyumnya hangat seperti sinar matahari pagi. Ia adalah anak sulung keluarga petani yang telah mengolah tanah di desa ini selama beberapa generasi.   Saat ia beristirahat di bawah naungan pohon pepaya yang tum...

Bunga Melati di Dusun Tegeh

Cerpen Bunga Melati di Dusun Tegeh. Oleh: Made Budilana.   Udara pagi di Dusun Tegeh masih dingin menyegarkan, dibarengi aroma tanah lembab dan bunga melati yang tumbuh merambat di sekeliling pagar bambu rumah-rumah. Desa yang terletak di lereng Gunung ini dikenal dengan hamparan kebun jeruk dan peternakan sapi perah yang menghasilkan susu berkualitas tinggi.   Ni Luh Ayu, gadis berusia sembilan belas tahun dengan wajah cerah seperti buah mangga matang, sedang membersihkan kandang sapi di halaman rumahnya. Tangan tangannya yang terlatih dengan cepat membersihkan kotoran sambil menyemburkan air agar tidak berdebu. Sesekali dia berhenti sejenak untuk menghirup aroma bunga melati dari tanaman yang dia rawat sendiri di sudut kandang.   "Ni Luh Ayu... ada surat buat kamu!"   Suara itu datang dari I Made, pemuda berusia dua puluh satu tahun yang baru saja turun dari atas bukit dengan sepeda ontelnya. Rambutnya yang sedikit kusut akibat angin, dia  perbaiki dengan cepa...

Asmara Di Dusun Cemara.

Cerpen Asmara di Dusun Cemara. Oleh: Made Budilana. Hujan yang mulai reda menyisakan kesegaran di udara di Dusun Cemara. Daun-daun pepohonan di sekitar dusun Cemara mengeluarkan aroma khas yang membuat hati tenang. Siti, gadis berusia dua puluh tahun dengan rambut hitam lurus yang selalu dia ikat dengan kain batik warna coklat tua, sedang menyapu halaman rumahnya sambil sesekali menatap jalan kecil yang mengarah ke sawah.   "Siti... Siti..." suara lembut terdengar dari kejauhan.   Dia menoleh dan melihat I Kadek Bayu datang dengan membawa ember bambu berisi buah salak dari kebun keluarganya. Wajah pemuda berusia dua puluh dua tahun itu tampak ceria, meskipun keringat masih menetes di dahinya akibat jalan menyusuri lereng bukit.   "Buat kamu," ujar Bayu sambil memberikan embernya. "Kakek bilang salaknya sudah matang sempurna."   Siti tersenyum manis. "Terima kasih, Bayu. Kamu harus masuk dulu, saya akan seduh teh jahe hangat."   Keduanya duduk di ...

Bunga di Tengah Badai

Cerpen Bunga di Tengah Badai. Oleh Made Budilana. Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan gunung, ada seorang perempuan bernama Rina. Hidupnya seperti cerita sedih yang tak pernah berakhir. Suaminya, yang merupakan tulang punggung keluarga, meninggal secara tiba-tiba, meninggalkan Rina dengan dua anak kecil, Arman dan Lina, serta hutang yang menumpuk. Rina merasa dunia runtuh. Dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi kesulitan ini sendirian. Tapi, ketika dia melihat anak-anaknya yang membutuhkan dia, Rina menemukan kekuatan yang tak terduga. Dia bangkit, seperti bunga yang tumbuh di tengah badai. Dengan kerja keras dan tekad, Rina memutuskan membuka warung kecil di depan rumahnya. Dia menjual makanan dan minuman sederhana, sambil merawat anak-anaknya. Hari-harinya dipenuhi dengan suara anak-anak yang bermain, aroma makanan yang lezat, dan senyum pelanggan yang hangat. Waktu berlalu, warung Rina semakin maju. Orang-orang di desa mulai mengenal dan menghargai Rina. Mereka datang ...

Ketika Mata Pertama Bersilang

Novelet: Ketika Mata Pertama Bersilang. Karya: Made Budilana. Bab 1: Kedatangan yang Tak Terduga   Hari itu, langit Bali tampak lebih biru dari biasanya. Sinar matahari menyinari setiap sudut halaman taman buku "Bunga Mekar" di Jalan Gajah Mada, Denpasar. Rara duduk di sudut paling dalam, meletakkan dagunya di atas meja kayu yang sedikit mengkilap akibat sentuhan tangan banyak pembaca. Tangan kirinya menekuk halaman buku puisi yang sedang dia baca, sementara tangan kanannya secara tidak sengaja mengocok gelas jus alpukat yang berdiri di sebelahnya.   Dia sedang memikirkan baris-baris puisi yang baru saja dia tulis tentang rasa rindu yang belum pernah dia rasakan—suatu hal yang lucu, karena dia bahkan belum pernah merasakan cinta yang sesungguhnya. Rara adalah seorang mahasiswi sastra semester tiga yang lebih suka menghabiskan waktu dengan kata-kata daripada berinteraksi dengan orang baru. Hingga suara lembut seseorang membuatnya terkejut.   "Maaf, apakah kursi di sebelah...