Asmara Di Kintamani.
Di lereng Gunung Batur, di sebuah desa kecil yang tersembunyi di antara hamparan kebun kol dan sayur hijau yang hijau menyala, tinggal seorang wanita bernama Kadek Ayu. Usianya dua puluh lima tahun, wajahnya seperti bunga melati yang baru mekar di pagi hari, dan tangannya yang kuat telah terbiasa bekerja di kebun milik keluarganya sejak masih muda. Setiap pagi, sebelum matahari mulai memanaskan permukaan tanah Kintamani, dia sudah berada di kebun dengan keranjang rotan di pundaknya, memilih kol terbaik yang berdaging padat dan sayur hijau yang segar. Suara burung yang berkicau dari pepohonan beringin tua menjadi irama hariannya, dan udara segar yang bercampur aroma sayuran segar serta tanah vulkanik selalu membuat hatinya merasa tenang. Hingga suatu pagi, ketika kabut masih menyelimuti bagian atas danau Batur yang luas, dia melihat sosok seorang pria sedang berdiri di tepi sawah, memegang kamera dengan lensa besar, menangkap pemandangan matahari yang mulai muncul dari balik puncak gunu...