Bunga Melati di Dusun Tegeh
Cerpen Bunga Melati di Dusun Tegeh.
Oleh: Made Budilana.
Udara pagi di Dusun Tegeh masih dingin menyegarkan, dibarengi aroma tanah lembab dan bunga melati yang tumbuh merambat di sekeliling pagar bambu rumah-rumah. Desa yang terletak di lereng Gunung ini dikenal dengan hamparan kebun jeruk dan peternakan sapi perah yang menghasilkan susu berkualitas tinggi.
Ni Luh Ayu, gadis berusia sembilan belas tahun dengan wajah cerah seperti buah mangga matang, sedang membersihkan kandang sapi di halaman rumahnya. Tangan tangannya yang terlatih dengan cepat membersihkan kotoran sambil menyemburkan air agar tidak berdebu. Sesekali dia berhenti sejenak untuk menghirup aroma bunga melati dari tanaman yang dia rawat sendiri di sudut kandang.
"Ni Luh Ayu... ada surat buat kamu!"
Suara itu datang dari I Made, pemuda berusia dua puluh satu tahun yang baru saja turun dari atas bukit dengan sepeda ontelnya. Rambutnya yang sedikit kusut akibat angin, dia perbaiki dengan cepat sebelum menghampiri Ayu. Tangannya memegang amplop kecil yang dilipat rapi.
Ayu mengusap tangannya di seragam kerja yang dikenakannya sebelum menerima amplop tersebut. Dia mengenali tulisan tangan di atasnya—tulisan khas Gede yang selalu rapi.
"Saya menulisnya kemarin malam," ujar Gede sambil menggaruk kepalanya, wajahnya sedikit memerah. "Baca saja nanti kalau kamu sudah selesai bekerja ya."
Setelah Gede pergi, Ayu segera menyelesaikan pekerjaannya dan berlari ke kamar untuk membaca surat itu. Di dalamnya tertulis kata-kata yang hangat tentang bagaimana Gede selalu memperhatikan Ayu sejak mereka bersama-sama membantu panen jeruk di kebun kakeknya tiga tahun lalu. Dia juga menulis tentang impiannya untuk membangun rumah kecil di tepi kebun jeruk mereka nanti, dengan taman melati di sekelilingnya.
Keduanya memang sudah saling menyukai sejak lama. Setiap sore, mereka sering bertemu di tepi sungai yang mengalir di tengah dusun Tegeh. Ayu akan membawa makanan yang dia buat sendiri—biasanya bubur ayam atau sate plecing ikan laut yang dibawa dari pasar—sedangkan Gede akan menceritakan tentang perjalanannya menjelajahi lereng bukit untuk mencari bibit jeruk baru yang lebih baik.
Ketika musim kemarau datang, tiba-tiba sebagian kebun jeruk di desa mulai layu. Gede yang sedang belajar teknik pertanian di desa, berusaha keras membantu petani setempat menyiram kebun dengan menggunakan air dari sungai yang harus mereka angkut dengan ember bambu. Ayu tidak tinggal diam; dia mengajak beberapa gadis desa untuk membuat wadah penyimpanan air dari bambu dan batu bata agar air bisa dialirkan ke kebun dengan lebih mudah.
Pada malam hari yang penuh bintang, setelah beberapa minggu berjuang melawan kekeringan, Gede mengajak Ayu ke puncak bukit yang menghadap ke Laut Bali. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh Desa yang terletak di bawah dengan lampu-lampu rumah yang berkedip-kedip seperti bintang jatuh.
"Kamu tahu tidak, Ayu," ujar Gede sambil mengeluarkan rantai gelang yang dibuat dari kayu. "Gelang ini saya pahat sendiri, satu per satu, sebagai lambang bahwa kita akan selalu bersama meskipun harus menghadapi segala tantangan."
Ayu menerima gelang itu dengan tangan gemetar. "Saya juga punya sesuatu untukmu," katanya sambil mengeluarkan sehelai kain batik yang dia sulam sendiri dengan motif bunga melati dan daun jeruk. "Untuk selimutmu ketika kamu harus begadang merawat kebun."
Beberapa bulan kemudian, ketika musim hujan akhirnya datang dan kebun jeruk kembali subur menghasilkan buah yang banyak, keluarga mereka sepakat untuk menjodohkan keduanya. Upacara pertunangan dilakukan dengan sederhana di halaman rumah Ayu, dihadiri oleh tetua desa dan kerabat dekat. Mereka membawa persembahan khas Bali dan berdoa agar pasangan muda ini diberikan kebahagiaan dan kemakmuran. Pada hari pernikahan, seluruh desa tampak meriah. Para pemuda dan pemudi bernyanyi gembira.
Komentar
Posting Komentar