Asmara Di Dusun Cemara.
Cerpen Asmara di Dusun Cemara.
Oleh: Made Budilana.
Hujan yang mulai reda menyisakan kesegaran di udara di Dusun Cemara. Daun-daun pepohonan di sekitar dusun Cemara mengeluarkan aroma khas yang membuat hati tenang. Siti, gadis berusia dua puluh tahun dengan rambut hitam lurus yang selalu dia ikat dengan kain batik warna coklat tua, sedang menyapu halaman rumahnya sambil sesekali menatap jalan kecil yang mengarah ke sawah.
"Siti... Siti..." suara lembut terdengar dari kejauhan.
Dia menoleh dan melihat I Kadek Bayu datang dengan membawa ember bambu berisi buah salak dari kebun keluarganya. Wajah pemuda berusia dua puluh dua tahun itu tampak ceria, meskipun keringat masih menetes di dahinya akibat jalan menyusuri lereng bukit.
"Buat kamu," ujar Bayu sambil memberikan embernya. "Kakek bilang salaknya sudah matang sempurna."
Siti tersenyum manis. "Terima kasih, Bayu. Kamu harus masuk dulu, saya akan seduh teh jahe hangat."
Keduanya duduk di teras rumah yang dibuat dari kayu jati tua. Cahaya senja mulai menyebar di atas hamparan sawah padi yang membentang luas di depan desa. Dusun Cemara memang dikenal dengan sawah-sawahnya yang subur dan udara yang sejuk karena berada di kaki Gunung Lesung.
"Besok saya akan pergi ke pasar untuk menjual anyaman rotan yang sudah saya kerjakan," ujar Siti sambil mengocok gelas teh. "Kamu mau ikut?"
Bayu mengangguk. "Tentu. Saya juga akan menjual telur ayam kampung dan beberapa keranjang bambu yang saya buat. Setelah itu, kita bisa mampir ke warung makan Pak Made untuk makan sate lilit favoritmu."
Mata Siti berbinar. Keduanya sudah akrab sejak kecil, bermain bersama di antara rerumputan tinggi di pinggir sawah dan membantu satu sama lain saat musim panen tiba. Seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan berubah menjadi asmara yang hangat seperti teh jahe yang mereka nikmati setiap sore.
Suatu hari, ketika musim hujan mulai tiba, hujan turun dengan deras selama tiga hari berturut-turut. Jalan menuju dusun lain tergenang air, dan beberapa sawah mulai terendam. Bayu yang bekerja sebagai petani muda bersama ayahnya terpaksa keluar ke tengah hujan untuk memperbaiki bendungan kecil yang melindungi sawah mereka.
Siti sangat khawatir. Dia berdiri di depan pintu rumah sambil melihat hujan yang tidak kunjung reda. Sampai larut malam, Bayu baru pulang dengan baju basah dan tubuh yang menggigil.
"Saya khawatir kamu tersesat," ujar Siti dengan suara sedikit bergetar saat membantu Bayu mengganti baju basahnya.
"Tak mungkin," jawab Bayu sambil memegang tangan Siti. "Saya harus kembali ke sini, karena di sini ada orang yang selalu menungguku."
Beberapa bulan kemudian, pada hari raya Galungan, Bayu datang ke rumah Siti bersama orang tuanya. Bayu ingin meminang Siti dan bertemu dengan orang tua Siti di depan rumah. Di bawah pohon cemara yang rindang di halaman rumah, Bayu memohon restu untuk menikahi Siti.
"Kita tumbuh bersama di desa ini," ujar Bayu sambil melihat mata Siti yang penuh harap. "Sawah, kebun, dan setiap sudut Dusun Cemara adalah saksi perjalanan kita. Saya ingin membangun rumah tangga bersama Siti, merawat desa kita, dan menjaga kebersamaan yang sudah kita bangun sejak dulu."
Orang tua mereka mengangguk dengan senyum. Di Dusun Cemara, asmara yang tumbuh dari rasa saling menghargai dan membantu satu sama lain selalu dianggap sebagai anugerah dari Tuhan.
Pada hari pernikahan, seluruh dusun Cemara berkumpul. Mereka membawa kado pernikahan untuk Bayu dan Siti. Suasana penuh keceriaan meriahkan pernikahan dua anak muda yang akan terus merawat desa mereka dengan cinta dan kasih sayang.
Komentar
Posting Komentar