Ketika Mata Pertama Bersilang

Novelet: Ketika Mata Pertama Bersilang.
Karya: Made Budilana.

Bab 1: Kedatangan yang Tak Terduga
 
Hari itu, langit Bali tampak lebih biru dari biasanya. Sinar matahari menyinari setiap sudut halaman taman buku "Bunga Mekar" di Jalan Gajah Mada, Denpasar. Rara duduk di sudut paling dalam, meletakkan dagunya di atas meja kayu yang sedikit mengkilap akibat sentuhan tangan banyak pembaca. Tangan kirinya menekuk halaman buku puisi yang sedang dia baca, sementara tangan kanannya secara tidak sengaja mengocok gelas jus alpukat yang berdiri di sebelahnya.
 
Dia sedang memikirkan baris-baris puisi yang baru saja dia tulis tentang rasa rindu yang belum pernah dia rasakan—suatu hal yang lucu, karena dia bahkan belum pernah merasakan cinta yang sesungguhnya. Rara adalah seorang mahasiswi sastra semester tiga yang lebih suka menghabiskan waktu dengan kata-kata daripada berinteraksi dengan orang baru. Hingga suara lembut seseorang membuatnya terkejut.
 
"Maaf, apakah kursi di sebelah Anda kosong?"
 
Rara mengangkat kepala, dan dalam sekejap, dunia sepertinya berhenti berputar. Di depannya berdiri seorang pria muda dengan rambut hitam yang sedikit berantakan, mengenakan kemeja lengan panjang warna biru muda yang sedikit kusut, dan celana jeans yang sudah terlihat akrab dengan penggunaan. Matanya yang coklat keemasan seperti menyimpan ribuan cerita, dan senyumnya membuat sudut mulut Rara secara tidak sadar mengikuti lekukan yang sama.
 
"Oh... ya, silakan," ujar Rara dengan suara yang lebih kecil dari yang dia harapkan. Dia terkejut melihat tangannya yang sedang menggenggam buku mulai sedikit gemetar.
 
Pria itu mengangguk dengan senyum hangat, kemudian duduk perlahan. Dia meletakkan tas ranselnya di bawah meja dan mengeluarkan sebuah buku tentang sejarah seni Bali. Rara mencoba fokus kembali pada bukunya, tapi mata selalu tidak sengaja melirik ke arah pria itu. Setiap kali halaman buku dikocok, aroma parfum kayu yang lembut menyebar ke udara dan membuat hati Rara berdebar kencang.
 
Bab 2: Percakapan Pertama
 
Setelah sekitar sepuluh menit yang terasa seperti berjam-jam, pria itu tiba-tiba berbicara lagi. "Anda suka membaca puisi?" tanyanya sambil menunjuk buku di tangan Rara.
 
Rara terkejut dan sedikit malu. "Ya... saya juga suka menulisnya," jawabnya sambil menunduk.
 
"Benarkah? Bolehkah saya membacanya?"
 
Tanpa berpikir dua kali, Rara mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tasnya. Dia memberikan buku itu dengan tangan yang gemetar, sambil berdoa agar tulisannya tidak terlalu buruk. Pria itu membaca dengan seksama, matanya terkadang berbinar saat menemukan baris yang dia sukai.
 
"Sangat indah," katanya setelah selesai. "Kata-katanya seperti bisa merasakan apa yang Anda rasakan. Nama saya I Kadek Arya, biasa dipanggil Arya. Saya mahasiswa sejarah seni di Institut Seni Indonesia Denpasar."
 
"Saya Rara," ucapnya dengan senyum. "Mahasiswi sastra di Udayana."
 
Mereka mulai berbincang panjang. Arya menceritakan tentang perjalanan penelitiannya ke berbagai pura di Bali untuk mempelajari ukiran dan lukisan kuno, sementara Rara bercerita tentang proses menulis puisi dan bagaimana alam serta budaya Bali selalu menjadi inspirasinya. Waktu terasa berlalu begitu cepat, hingga taman buku mulai akan tutup.
 
"Saya rasa kita harus pergi sekarang," kata Arya dengan sedikit kesedihan di suaranya. "Tapi... bolehkah saya bertemu Anda lagi besok? Saya ingin menunjukkan kepada Anda sebuah tempat yang mungkin bisa menjadi inspirasi untuk tulisan Anda."
 
Rara mengangguk dengan senyum lebar. "Tentu saja. Saya sangat senang."
 
Bab 3: Benih Cinta yang Tumbuh
 
Hari berikutnya, Arya menjemput Rara tepat pukul sembilan pagi. Dia membawa sepeda motor yang sudah dia siapkan dengan helm tambahan. Mereka pergi menuju sebuah desa kecil di pinggiran Denpasar, tempat terdapat sebuah kebun bunga yang dikelola oleh kakek Arya.
 
Ketika mereka tiba, Rara terpesona. Ribuan bunga kembang segar berwarna-warni menghiasi setiap sudut kebun—melati putih yang harum, kembang sepatu merah yang mencolok, dan bunga kamboja kuning yang anggun. Di tengah kebun terdapat sebuah gazebo kecil dengan atap jerami, di mana sebuah meja kayu dan beberapa kursi sudah disiapkan.
 
"Saya sering datang ke sini ketika ingin mencari ketenangan," kata Arya sambil menunjukkan tempat itu. "Kakek saya bilang, setiap bunga memiliki cerita sendiri. Cinta seperti bunga—perlu waktu untuk tumbuh, butuh perawatan agar tetap indah."
 
Mereka duduk di gazebo, dan Rara mulai merasakan sesuatu yang baru di dalam hatinya. Setiap kata yang keluar dari mulut Arya membuatnya semakin terpesona. Dia melihat bagaimana Arya dengan penuh cinta merawat setiap tanaman, bagaimana matanya bersinar saat berbicara tentang makna filosofis di balik setiap bunga dalam budaya Bali.
 
"Arya," ucap Rara dengan suara lembut. "Ketika saya pertama kali melihat Anda di taman buku, rasanya seperti dunia saya menjadi lebih hidup. Saya tidak tahu apa itu, tapi saya suka berada di dekat Anda."
 
Arya menoleh ke arahnya, matanya penuh dengan perhatian. "Saya juga merasakan hal yang sama, Rara. Dari pandangan pertama itu saja, saya tahu bahwa Anda adalah orang yang spesial. Saya ingin mengenal Anda lebih dalam, ingin menjadi bagian dari cerita hidup Anda."
 
Mereka saling melihat mata, dan dalam sekejap, mereka tahu bahwa apa yang tumbuh di antara mereka bukan hanya rasa suka semata. Itu adalah cinta yang muncul dengan sendirinya sejak mata pertama mereka bersilang—sebuah cinta yang murni, seperti bunga yang baru saja mekar di pagi hari.
 
Bab 4: Cinta yang Abadi
 
Beberapa tahun kemudian, kebun bunga milik kakek Arya menjadi tempat di mana mereka bertukar janji cinta. Pada hari pernikahan mereka, seluruh kebun dihiasi dengan bunga-bunga yang mereka rawat bersama. Rara mengenakan kebaya putih dengan renda bunga melati, sementara Arya mengenakan baju bodo dengan ikat pinggang yang indah.
 
Saat berdiri di depan altar yang terletak di tengah gazebo yang sama tempat mereka pertama kali mengungkapkan perasaan, Arya mengambil tangan Rara dan berkata: "Dari pandangan pertama saya melihatmu, saya tahu bahwa Anda adalah orang yang akan saya cintai sepanjang hidup saya. Anda adalah inspirasi saya, tempat berlindung saya, dan cinta sejati saya."
 
Rara menangis bahagia saat menjawab: "Saya juga merasakan hal yang sama. Cinta kita seperti bunga yang tumbuh di kebun ini—dimulai dari benih kecil yang muncul saat mata kita pertama bersilang, dan tumbuh menjadi sesuatu yang indah dan abadi."
 
Setelah upacara selesai, mereka berjalan di antara barisan bunga, tangan mereka saling terkait erat. Mata mereka bertemu lagi, sama seperti saat pertama kali bertemu di taman buku, dan mereka tahu bahwa cinta mereka akan terus tumbuh sepanjang hayat mereka—didukung oleh kenangan indah dari pandangan pertama yang mengubah hidup mereka selamanya.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja di Pantai Kapal Tejakula.

Cinta di Bawah Bukit Batu Kursi

Asmara Di Pantai Seririt.