Malam Di Kampung Pajarakan.
Aku dan tiga temanku – Rina, Budi, dan Dimas – memutuskan untuk menjelajahi Kampung Pajarakan, desa terpencil di lereng Gunung Agung yang hanya terdengar dari cerita nenek moyang. Jalan hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki dua jam melalui hutan lebat, dan saat kita sampai di pinggir desa menjelang sore, udara jadi sangat dingin, berbeda dengan panasnya Bali siang hari. Tanah lembap berbau tanah basah menyengat, rumah-rumah kayu bambu tua sebagian roboh dan ditutupi lumut hijau pekat. Tak ada satu pun nyala lampu, padahal belum jam delapan malam.
"Kok kayak tidak ada orang ya?" bisik Rina sambil menggenggam lenganku erat. Budi tersenyum sinis. "Mungkin mereka sudah tidur duluan. Ayo cari tempat beristirahat." Kita menemukan rumah besar di tengah desa yang lebih terawat. Pintu kayu sedikit terbuka, dan dari dalam terdengar suara gemericik air yang aneh. Dimas mendorong pintu dan masuk dulu. "Sini cepat! Ada ruangan yang bisa kita gunakan!"
Ketika kita masuk, aroma kuno dan amis menyengat menghantui hidung. Ruangan besar dengan atap tinggi penuh perabotan tua berdebu tebal. Di sudut kanan ada waduk batu kecil dengan air yang terus menyembur dari celah dinding – warnanya keruh seperti darah mengental. "Aku tidak nyaman di sini," ucap Rina gemetar. "Mari cari tempat lain saja." Tapi sebelum kita bergerak, pintu kayu besar di belakang kita tiba-tiba tertutup dengan suara keras yang menggema, membuat kita terkejut berjatuhan. Dimas mencoba membukanya tapi pintu seperti terkunci rapat, meskipun tidak ada kunci yang terlihat.
Kemarahan Budi muncul. "Siapa yang menutup pintu?! Keluar sini kalau berani!" Suaranya bergema di ruangan kosong, tapi tidak ada jawaban selain gema yang makin pelan lalu hilang. Rina mulai menangis pelan, sementara aku mencoba menenangkannya sambil melihat sekeliling ruangan. Ada beberapa lukisan dinding tua yang warnanya sudah memudar – menggambarkan orang-orang desa yang sedang mengikat sesuatu dengan tali bambu di atas kayu besar, kemudian menjatuhkannya ke dalam sumur yang dalam. Di bawah lukisan itu tertulis tulisan kuno dalam Bahasa Bali kuno yang tidak bisa kita pahami.
Tiba-tiba suara gemericik air dari waduk itu berubah jadi suara teriakan yang menyakitkan telinga. Kita menoleh ke arah waduk dan melihat air yang tadinya keruh mulai menggelegak, kemudian muncul kepala manusia dengan rambut panjang kusut yang menutupi wajahnya. Tubuhnya perlahan keluar dari air, tapi tubuhnya tidak seperti manusia biasa – kulitnya belang belang seperti ular, dan tangannya berubah jadi cakar panjang yang mengkilap di kegelapan.
Kita berlari ke arah bagian dalam rumah mencari jalan keluar lain. Ditemukan sebuah lorong sempit yang mengarah ke kamar belakang. Saat kita masuk, kamar itu penuh dengan benda-benda antik – perhiasan tembaga, kain tenun tua, dan beberapa potret wajah orang yang ekspresinya sangat takut. Budi menyentuh salah satu potret dan tiba-tiba wajah di potret itu bergerak, matanya yang tadinya tertutup perlahan terbuka – putih bulat tanpa iris atau pupil. Suara bisikan pelan terdengar dari mana saja: "Kalian tidak boleh datang ke sini... kalian harus dibayar..."
Rina terjatuh dan tidak bisa berdiri lagi, tubuhnya menggigil hebat. Aku dan Dimas mencoba membantunya, tapi dari balik pintu lorong terdengar suara langkah kaki yang berat dan lambat – tap... tap... tap... setiap langkah membuat lantai kayu bergetar. Ketika sosok itu muncul di ujung lorong, kita melihatnya jelas – tinggi lebih dari dua meter, tubuhnya penuh dengan kulit belang hitam putih, rambut panjangnya menjuntai sampai ke tanah, dan wajahnya yang tidak punya hidung maupun mulut, hanya dua lubang putih besar untuk mata yang menatap kita dengan penuh kebencian.
Kita berlari keluar dari kamar itu ke arah belakang rumah, menemukan sebuah pintu kecil yang mengarah ke halaman belakang. Ketika kita keluar, bulan yang tadinya tertutup awan mulai muncul, menerangi halaman yang penuh dengan makam-makam batu kecil tanpa nama. Di tengah halaman ada sebuah sumur besar dengan penutup kayu yang sudah lapuk. Suara dari dalam sumur itu terdengar – suara orang-orang yang menangis dan meratap, diselingi dengan tawa jahat yang menusuk hati.
Benda-benda di sekitar makam mulai bergetar, batu makam bergeser satu per satu, dan dari dalamnya muncul tangan-tangan kulit pucat yang meraih ke arah kita. Dimas terjatuh dan tangan itu meraih kakinya – dia berteriak kesakitan saat kulitnya mulai membusuk di tempat yang diraih. Budi mengambil kayu besar dari dekat pintu dan menghancurkan tangan-tangan itu satu per satu, sambil berteriak agar aku dan Rina berlari lebih cepat.
Kita berlari melewati makam-makam itu menuju hutan, tapi jalan yang tadinya jelas jadi bingung dan berkelok-kelok tanpa akhir. Udara jadi semakin dingin, dan suara langkah kaki yang berat itu kembali terdengar di belakang kita – tap... tap... tap... semakin dekat. Rina tidak tahan lagi dan berbalik menghadapinya, dengan wajah penuh keputusasaan. "Aku sudah tidak bisa berlari lagi!" teriaknya.
Saat sosok itu menghampiri Rina, aku melihat sesuatu yang aneh – di leher Rina muncul tali bambu yang perlahan mengencang, padahal tidak ada yang memegangnya. Dia mulai tersedak, mata membesar dan melihat ke arahku dengan ekspresi memohon. Aku mencoba membuka tali itu tapi tidak bisa menyentuhnya – rasanya seperti menyentuh bara panas. Dalam beberapa detik, Rina terangkat ke udara dan kemudian dilemparkan dengan keras ke arah pohon besar di dekatnya. Tubuhnya menabrak batang pohon dengan suara keras, dan kemudian tidak bergerak lagi.
Kemarahan dan ketakutan menggilaiku. Aku berlari tanpa tujuan, tidak peduli ke mana arahnya. Sampai akhirnya menemukan jalan kecil yang aku kenal – jalan yang membawa kita ke desa. Saat matahari mulai muncul di ufuk timur, aku sampai di pinggir desa wisata dekat Candi Kuning. Tubuhku penuh dengan luka dan kotoran, pakaian kusut dan robek. Aku langsung melarikan diri ke kantor polisi untuk melaporkan apa yang terjadi.
Ketika tim penyelamat pergi ke Kampung Pajarakan dengan aku sebagai pemandu, mereka tidak menemukan apa-apa. Tidak ada rumah besar yang kita tempati, tidak ada makam-makam, bahkan tidak ada jejak desa yang pernah ada di sana. Hanya hutan lebat dengan tanah yang rata dan beberapa pohon besar. Mereka mengatakan aku mungkin mengalami kelelahan ekstrem dan khayalan akibat panas matahari. Tapi aku tahu yang sebenarnya terjadi.
Beberapa hari kemudian, aku menemukan sebuah surat di depan pintu rumahku. Isinya tulisan tangan kasar dalam Bahasa Bali kuno yang setelah diterjemahkan berbunyi: "Kalian telah melihat apa yang tidak boleh dilihat. Satu sudah dibayar, tiga lagi harus datang kembali..." Di bawah tulisan itu ada foto – foto aku, Budi, dan Dimas saat kita sedang berjalan menuju Kampung Pajarakan. Di belakang kita berdiri sosok tinggi dengan kulit belang, sedang menatap kamera dengan matanya yang putih bulat.
Sekarang aku selalu melihat bayangan itu di setiap sudut rumahku. Suara langkah kaki tap... tap... tap... selalu terdengar di malam hari. Aku tahu bahwa suatu hari nanti, mereka akan datang untuk mengambil apa yang menjadi hak mereka. Dan ketika itu terjadi, tidak ada yang bisa menyelamatkan aku.
Komentar
Posting Komentar