Postingan

Cerpen Di Antara Kobaran Api dan Doa.

Cerpen Di Antara Kobaran Api dan Doa.   Waktu seolah berhenti berdetak tepat pukul 19.03, tanggal 18 Mei 2026. Di hadapanku, api berkobar lurus ke atas, menjilat langit dengan cahaya merah yang menyakitkan mata. Panasnya terasa menembus kulit, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang sedang tercabut dari dalam dadaku. Di dalam kobaran itu, terbaring raga anakku, yang perlahan-lahan, sepotong demi sepotong, kembali menyatu dengan semesta yang dulu menitipkannya padaku. Setiap kali nyala api membesar, aku merasa ada sebagian diriku yang ikut runtuh, hancur menjadi butiran abu halus yang kemudian terbang terbawa angin, menjauh, menghilang ke dalam gelap yang luas.   Aku selalu berpikir, sebagai seorang ayah, aku harus menjadi sosok yang paling siap menghadapi segala hal. Aku belajar cara menggendongnya saat masih bayi agar kepalanya yang lembut tidak terguncang, belajar cara menenangkannya saat menangis di tengah malam, belajar cara berdiri tegar saat ia jatuh, juga bel...

Cerpen Sampai Bertemu Lagi dalam Cinta

Cerpen Sampai Bertemu Lagi dalam Cinta.   Langkah kakiku terasa berat saat meninggalkan halaman rumahmu sore itu. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang membias di antara dedaunan, seolah langit pun ikut merasakan keperihian perpisahan yang sedang kita lalui berdua. Di beranda rumah itu, kau berdiri diam menatapku, matamu yang biasa berbinar penuh tawa kini tampak berkaca-kaca, menahan butiran air mata yang berjuang agar tidak jatuh membasahi pipi. Kita berdua sama-sama tahu, momen ini pasti akan tiba. Kita sudah membicarakannya berkali-kali, melewati malam-malam panjang dengan obrolan yang penuh pertimbangan, meyakinkan satu sama lain bahwa ini adalah jalan terbaik, jalan yang harus kita tempuh demi masa depan masing-masing, demi mimpi-mimpi yang belum sempat kita raih. Namun, sekeras apa pun kita berusaha bersikap tegar, sekuat apa pun kita berjanji untuk tidak bersedih, tetap saja rasanya ada bagian dari diriku yang ikut tertinggal di sana, terikat era...

Cerpen Di Tengah Badai, Aku Masih Bertahan.

Cerpen Di Tengah Badai, Aku Masih Bertahan.   Aku pernah berpikir dengan sangat yakin, bahwa apa yang sedang melanda hidupku ini hanyalah sebuah badai biasa yang hanya akan singgah sebentar. Seperti hujan deras yang sering turun di sore hari, aku membayangkan awan kelabu itu akan lewat, angin kencang itu akan mereda, dan tak lama kemudian langit akan kembali cerah, matahari bersinar lagi seperti sedia kala, dan segala sesuatu akan kembali berjalan wajar seperti sebelum semuanya berubah. Aku bersiap menunggu, berpikir bahwa aku hanya butuh sedikit kesabaran, sedikit waktu, dan segalanya akan berakhir baik-baik saja. Namun kenyataan berkata lain. Hari demi hari berlalu, berganti menjadi minggu, lalu berbulan-bulan, dan badai itu sama sekali tidak pergi. Ia justru tumbuh semakin besar, semakin dahsyat, anginnya bertiup semakin dingin menusuk sampai ke tulang sumsum, dan ia tinggal semakin lama, menetap begitu saja di tengah-tengah hidupku, seolah memiliki hak penuh untuk menduduki set...

Cerpen Lorong Waktu.

Cerpen Lorong Waktu.   Di sudut paling belakang rumah pusaka itu, tersembunyi di balik tumpukan peti kayu tua dan kain-kain penutup yang sudah lusuh warnanya, terdapat sebuah pintu kayu yang sejak kecil selalu membuatku penasaran. Warnanya sudah memudar menjadi abu-abu pucat, ukiran daun-daun di pinggirnya sudah banyak terkikis dimakan usia, dan gagang pintunya terbuat dari kuningan yang dulunya berkilau, kini tertutup lapisan debu dan noda hijau kehitaman. Seingatku, tak ada satu pun anggota keluarga yang pernah membukanya. Nenek selalu melarangku mendekat, berkata dengan nada serius namun berbisik, "Jangan disentuh, itu lorong yang tak boleh kau lalui. Di baliknya bukan sekadar ruangan kosong, tapi waktu yang diam dan menunggu." Dulu aku tak pernah paham arti kata-kata itu, hanya menganggapnya dongeng pengantar tidur agar aku tidak mengacak-acak bagian rumah yang sudah tua dan rapuh. Namun malam itu, saat hujan turun deras sekali memukul atap, saat petir menyambar berkali-k...

Cerpen "Lelah Bukan Berarti Menyerah"

Cerpen "Lelah Bukan Berarti Menyerah"   Jalanan yang kulalui hari ini terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah yang kuayunkan terasa berat, seolah ada beban berat yang menggantung di kedua ujung kakiku, menarikku perlahan ke bawah, memintaku untuk berhenti, duduk, dan diam saja. Napasku terasa pendek dan panas, keluar masuk di dada yang terasa sesak, seolah paru-paruku pun ikut merasakan kelelahan yang sama dengan seluruh ragaku. Di sekitarku, orang-orang berjalan cepat, berlarian mengejar tujuan masing-masing, wajah mereka tampak penuh semangat atau setidaknya tampak biasa saja. Sementara aku? Aku berjalan pelan, sangat pelan, mataku menatap lurus ke depan namun pandanganku terasa kabur, lelah yang terasa sampai ke tulang sumsum membuatku tak lagi sanggup berlari seperti dulu. Banyak mata yang menoleh, banyak bisikan yang kudengar samar-samar, "Dia sudah menyerah," "Dia sudah kalah," "Dia sudah tak sanggup lagi," begitulah kira-kira is...

Cerpen Sahabat Kecilku yang Menemani Hidupku.

Cerpen Sahabat Kecilku yang Menemani Hidupku.   Di halaman rumah yang sederhana, di bawah naungan pohon mangga tua yang daun-daunnya selalu berbisik ditiup angin, bermula kisah persahabatan yang tak akan pernah hilang dari ingatan seumur hidupku. Namanya Boni, seekor anjing kampung berambut cokelat kemerahan dengan dada berwarna putih bersih, matanya bulat dan cerdas, selalu memancarkan kehangatan serta kesetiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Ia datang ke rumah kami saat aku masih berusia lima tahun, seekor anak anjing mungil yang gemetar kedinginan, dibawa pulang oleh Ayah sebagai hadiah ulang tahunku yang paling istimewa. Saat itu, aku belum menyadari bahwa makhluk kecil berbulu itu kelak akan menjadi bagian terpenting dari seluruh perjalanan hidupku, saksi bisu segala tawa dan tangis, serta sahabat sejati yang tak pernah meninggalkanku dalam keadaan apa pun.   Sejak hari pertama ia tiba, Boni langsung menancapkan dirinya kuat di hatiku. Ukurannya saat itu hanya seb...

Cerpen Di Balik Tabir Masa.

Cerpen Di Balik Tabir Masa.   Di sudut kota tua yang berdebu, di mana bangunan-bangunan kuno berdiri kokoh seolah menahan jejak masa lalu, terdapat sebuah toko kecil yang tampak biasa saja, namun menyimpan rahasia yang tak terhitung jumlahnya. Papan namanya sudah memudar, tertulis Pusaka Waktu dengan huruf emas yang mulai pudar dimakan usia. Tak banyak orang yang lewat di sini, apalagi masuk ke dalamnya. Konon, hanya mereka yang benar-benar membutuhkan atau ditakdirkan, yang mampu menemukan pintu kayu berukir rumit itu terbuka dengan sendirinya. Di balik meja kayu tua yang penuh goresan cerita, duduklah seorang pria tua berambut perak bernama Arya. Matanya berwarna kelabu, teduh namun menyimpan kedalaman yang tak terukur, seolah ia telah melihat ribuan musim berganti dan ratusan kisah berakhir. Arya bukan sekadar penjual barang antik, ia adalah penjaga tirai waktu—sebuah batas tipis yang memisahkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Barang-barang yang ada di tokonya bukan sekada...