Cerpen Di Antara Kobaran Api dan Doa.
Cerpen Di Antara Kobaran Api dan Doa. Waktu seolah berhenti berdetak tepat pukul 19.03, tanggal 18 Mei 2026. Di hadapanku, api berkobar lurus ke atas, menjilat langit dengan cahaya merah yang menyakitkan mata. Panasnya terasa menembus kulit, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan apa yang sedang tercabut dari dalam dadaku. Di dalam kobaran itu, terbaring raga anakku, yang perlahan-lahan, sepotong demi sepotong, kembali menyatu dengan semesta yang dulu menitipkannya padaku. Setiap kali nyala api membesar, aku merasa ada sebagian diriku yang ikut runtuh, hancur menjadi butiran abu halus yang kemudian terbang terbawa angin, menjauh, menghilang ke dalam gelap yang luas. Aku selalu berpikir, sebagai seorang ayah, aku harus menjadi sosok yang paling siap menghadapi segala hal. Aku belajar cara menggendongnya saat masih bayi agar kepalanya yang lembut tidak terguncang, belajar cara menenangkannya saat menangis di tengah malam, belajar cara berdiri tegar saat ia jatuh, juga bel...