Cerpen Di Ujung Nadi, Aku Hampir Berhenti.

Cerpen Di Ujung Nadi, Aku Hampir Berhenti.

Langit sore itu tampak kelabu, seakan turut merasakan beban berat yang sedang menekan dadaku. Aku duduk sendirian di sudut ruangan, memeluk lutut, membiarkan air mata yang selama ini kutahan akhirnya tumpah begitu saja. Rasanya lelah sekali, sangat lelah. Bukan lelah karena fisik yang bekerja keras, tapi lelah karena hati yang terus-menerus dipukul oleh ombak masalah yang tak kunjung reda.
 
Aku ingat betul bagaimana dulu aku begitu bersemangat mengejar mimpi. Aku percaya bahwa jika aku berusaha, jika aku berdoa, maka Tuhan pasti akan membuka jalan. Namun kenyataannya? Semua yang aku bangun seolah runtuh begitu saja. Usaha yang gagal, harapan yang pupus, orang-orang yang pergi meninggalkan, hingga kebutuhan hidup yang menumpuk seperti gunung yang siap menimpa. Setiap kali aku mencoba berdiri, seolah ada tangan tak kasat mata yang menarikku kembali jatuh ke dasar lubang keputusasaan.
 
"Kenapa selalu aku, Tuhan?" bisikku lirih, suaraku tercekat oleh isakan tangis. "Apa dosaku begitu besar hingga Engkau mengujiku seberat ini? Apa aku tidak pantas untuk bahagia?"
 
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalaku tanpa jawaban. Aku melihat orang-orang di sekitarku, mereka tampak begitu mudah menjalani hidup, sementara aku harus berjuang mati-matian hanya untuk sekadar bernapas lega. Rasanya tidak adil. Rasanya aku ingin berhenti saja. Ingin menyerah pada keadaan, membiarkan arus membawaku kemana saja, karena rasanya percuma aku melawan.
 
"Maafkan hambamu, Tuhan..." aku menunduk dalam, menempelkan kening ke lantai dingin. "Hamba hampir menyerah. Hamba merasa begitu lemah. Hamba tidak sanggup lagi memikul semua ini. Rasanya ingin aku tutup buku kehidupan ini saja, agar tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi kecewa."
 
Aku merasa bersalah telah berpikir demikian. Aku tahu Tuhan itu Maha Baik, aku tahu setiap ujian itu ada takarannya. Tapi saat ini, di titik terendah ini, imanku seakan ikut rapuh. Aku merasa sendirian, seakan doa-doaku hanya memantul kembali ke udara tanpa pernah sampai ke langit. Dunia terasa begitu luas, tapi tidak ada satu tempat pun yang terasa aman untukku bersandar.
 
Aku teringat kata-kata orang bijak bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, tapi di mana kemudahan itu? Sudah berapa lama aku menunggu? Tahun demi tahun berganti, tapi yang datang hanya masalah baru. Aku lelah berpura-pura kuat di depan orang lain, lelah tersenyum padahal hati ini hancur berkeping-keping.
 
"Tuhan... jika Engkau masih mengizinkan hamba ada di sini, tolong beri aku satu alasan saja untuk tetap bertahan," ratapku. "Karena saat ini, hamba benar-benar tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Hamba sudah di ujung tanduk. Maafkan hamba jika rasa syukur hamba menipis, maafkan hamba jika hati hamba mulai memberontak. Hanya Engkau yang tahu betapa hancurnya hamba saat ini."
 
Tangisku mereda, digantikan oleh kebisuan yang menyakitkan. Aku masih di sini, tubuhku masih bernapas, tapi jiwaku rasanya sudah mati rasa. Aku hanya berharap, semoga malam ini berlalu, dan entah bagaimana caranya, aku bisa membuka mata besok pagi dengan sedikit kekuatan yang tersisa. Meski saat ini aku hampir menyerah, namun dalam kedalaman hati yang paling dalam, masih ada secercah harap yang memohon, "Tolong jangan biarkan aku benar-benar hilang..."

Komentar