Cerpen Di Ujung Air Mata Ada Pelepasan.
Cerpen Di Ujung Air Mata Ada Pelepasan.
Hujan di luar turun dengan ritme yang sama persis seperti detak jantungku yang sedang berusaha tetap tenang. Di dalam kamar yang remang-remang ini, aku duduk memeluk lutut, menatap sebuah foto yang sudah mulai pudar warnanya. Wajah itu tersenyum begitu lebar, begitu cerah, seolah-olah tidak pernah ada luka yang diciptakannya di dalam dadaku.
"Mengikhlaskan"
Kata itu terdengar begitu indah, begitu suci, dan seringkali diucapkan begitu mudah oleh orang-orang yang tidak merasakannya. "Yaudah, ikhlasin aja." "Jangan dipikirin lagi." Seolah-olah melepaskan itu semudah membuang sampah ke tong sampah. Padahal, kenyataannya jauh lebih kejam daripada itu. Mengikhlaskan adalah proses memotong bagian dari dirimu sendiri, lalu membiarkannya pergi, sambil kamu berdarah-darah menahan sakit.
Aku ingat betul hari itu. Hari di mana dunia seakan runtuh. Bukan karena bencana alam, bukan karena perang, tapi karena satu kalimat yang keluar dari mulut orang yang paling aku percaya. "Maaf, aku harus pergi."
Dunia tidak berhenti berputar. Matahari tetap terbit esok harinya. Orang-orang di jalan tetap tertawa. Tapi bagiku, waktu terasa berhenti. Aku terjebak di dalam lorong kenangan yang gelap dan sempit. Di sana, setiap sudut berbicara. Di sana, setiap bau, setiap suara, setiap sudut jalan, mengingatkanku pada kita.
Aku marah. Aku sangat marah. Aku bertanya pada Tuhan, kenapa harus begini? Kenapa yang aku cintai justru yang paling menyakiti? Kenapa yang aku jaga sebaik mungkin justru yang pergi meninggalkan luka terbesar? Ada rasa tidak terima yang begitu besar menggerogoti logika. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya, memukul dinding, berteriak sampai suaraku hilang, agar rasa sesak di dada ini sedikit longgar. Tapi yang bisa kulakukan hanya diam. Menelan semua amarah dan kesedihan itu sendirian.
Hari-hari pertama adalah yang paling berat. Aku hidup seperti mayat yang berjalan. Makan hanya karena harus, tidur hanya karena mata lelah, tapi pikiran tidak pernah istirahat. Pikiran itu terus berputar, mengulang-ulang pertanyaan yang sama: Apa salahku? Apa kurangnya aku? Kenapa dia bisa secepat itu melupakan?
Aku mencoba bertahan. Aku mencoba memohon. Aku merendahkan egoku sampai ke tanah, hanya demi melihat dia kembali. Tapi semakin aku menarik, semakin dia menjauh. Semakin aku menggenggam erat, semakin dia terlepas seperti pasir. Di saat itulah aku sadar, ada orang yang hadir di hidupmu bukan untuk menetap, tapi untuk mengajarkan sesuatu, lalu pergi.
Proses mengikhlaskan itu tidak terjadi dalam semalam. Itu bukan sebuah tombol yang bisa ditekan lalu klik, semua rasa sakit hilang. Tidak. Mengikhlaskan adalah perjalanan yang panjang dan menyakitkan.
Ada hari-hari di mana aku merasa sudah kuat. Aku bisa tersenyum, aku bisa tertawa, aku merasa sudah baik-baik saja. Tapi tiba-tiba, tanpa peringatan, sebuah lagu lama diputar, atau aku tidak sengaja melihat namanya muncul di notifikasi, atau bahkan hanya mencium aroma parfum yang mirip di tengah keramaian. Dan dalam sekejap, semua tembok pertahanan yang sudah kubangun setinggi itu runtuh kembali. Aku hancur lagi. Aku menangis lagi.
Itu yang membuat mengikhlaskan terasa melelahkan. Kamu harus bangun berkali-kali, hanya untuk jatuh lagi. Kamu harus menyembuhkan lukamu sendiri, lalu lukanya terbuka lagi. Tapi perlahan, entah bagaimana caranya, rasa sakit itu mulai berubah bentuk.
Awalnya sakitnya seperti terbakar. Panas, perih, tak tertahankan. Lama kelamaan, rasanya seperti memegang gelas berisi air panas. Semakin lama kamu memegang, semakin tanganmu terbakar. Dan pada akhirnya, satu-satunya cara agar tidak sakit adalah dengan cara meletakkan gelas itu.
Aku mulai belajar melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda. Aku sadar, memaksanya tinggal sama dengan menyiksa diriku sendiri. Aku sadar, mencintai bukan berarti memiliki. Cinta yang sejati justru berani melepaskan jika kebersamaan itu hanya melahirkan air mata.
Aku mulai berdamai dengan kenangan. Tidak lagi aku memusuhi masa lalu. Aku berhenti bertanya kenapa, dan mulai berkata terima kasih. Terima kasih pernah hadir, terima kasih pernah bahagia, terima kasih pernah menjadi alasan aku tersenyum. Dan terima kasih juga karena pergi, karena itu mengajarkanku arti ketabahan yang sesungguhnya.
Mengikhlaskan bukan berarti kamu lemah. Justru, itu adalah bentuk kekuatan terbesar yang pernah ada. Itu artinya kamu cukup berani berkata: "Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai diriku sendiri untuk membiarkan diriku terus disakiti. Jadi, aku relakan kamu pergi. Aku relakan kita selesai."
Hari ini, aku masih melihat foto itu. Wajahnya masih sama. Tapi rasanya sudah berbeda. Tidak lagi ada nyeri yang menusuk. Tidak lagi ada amarah yang membara. Hanya ada rasa tenang. Seperti melihat pemandangan indah yang pernah ada, tapi kini sudah menjadi milik orang lain, atau milik masa lalu.
Aku sudah meletakkan gelas panas itu. Tanganku sudah tidak lagi terbakar. Lukanya mungkin masih menyisakan bekas luka, tapi bekas itu adalah bukti bahwa aku pernah terluka, dan aku berhasil sembuh.
Mengikhlaskan memang menyakitkan. Sangat menyakitkan. Tapi percayalah, di ujung rasa sakit itu, ada kedamaian yang selama ini kamu cari. Ada kebebasan. Dan ada dirimu yang utuh kembali, yang siap melangkah tanpa harus menyeret bayang-bayang masa lalu yang berat.
Selamat jalan, masa lalu. Terima kasih untuk lukanya, karena kini aku tahu caranya untuk sembuh.
Komentar
Posting Komentar