Cerpen Di Antara Detik Dan Waktu.
Cerpen Di Antara Detik Dan Waktu.
Dunia ini terasa begitu luas, begitu ramai, dan terkadang begitu membosankan. Kita berjalan, berlari, mengejar apa yang ada di depan mata, tanpa pernah tahu bahwa di suatu sudut yang tak terduga, semesta sedang menyiapkan sebuah pertemuan yang akan mengubah segalanya selamanya. Itulah yang disebut jatuh cinta. Sesuatu yang tidak bisa diprediksi, tidak bisa dijadwalkan, dan tidak bisa ditolak saat ia datang mengetuk pintu hati.
Aku ingat betul hari itu. Bukan karena ada peristiwa besar yang terjadi, bukan karena langit berwarna merah muda atau musik mengalun indah. Justru, hari itu terasa biasa saja. Sama seperti hari-hari lainnya. Hingga mataku bertemu dengan matanya.
Seketika, waktu seakan berhenti berputar. Suara keramaian di sekelilingku mendadak meredup, menjadi bisikan samar yang tak penting. Di antara ratusan orang yang lalu lalang, hanya wajah itu yang terlihat begitu jelas, begitu tajam, dan begitu... sempurna. Ada getaran aneh yang menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Jantungku yang biasanya berdetak teratur, tiba-tiba berubah irama menjadi lebih cepat, lebih kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.
Itu adalah detik pertama. Detik di mana aku sadar, bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi.
Awalnya, itu hanya rasa penasaran. Aku ingin tahu namanya, aku ingin tahu suaranya, aku ingin tahu apa yang dia suka dan apa yang tidak dia suka. Setiap kali dia lewat atau berada di dekatku, rasanya ada ribuan kupu-kupu yang terbang liar di dalam perut. Aku menjadi gugup, tanganku menjadi dingin, dan kata-kata yang sudah kususun rapi di kepala tiba-tiba hilang entah ke mana saat dia menatapku dan tersenyum.
Tuhan, betapa indahnya senyum itu. Seolah-olah semua awan gelap di hidupku tersibak seketika.
Jatuh cinta membuat segalanya berubah warna. Langit yang tadinya biru biasa, kini terlihat lebih cerah. Musik yang dulu hanya terdengar sebagai suara, kini memiliki makna lirik yang begitu dalam. Bahkan hal-hal kecil yang membosankan pun menjadi menyenangkan, asalkan dilakukan bersamanya.
Aku mulai menantikan setiap pesan yang masuk. Notifikasi namanya di layar handphone adalah hal yang paling ditunggu sepanjang hari. Membaca pesannya berulang-ulang, menghafal setiap katanya, membayangkan suaranya saat mengucapkan kata-kata itu. Malam-malam yang dulu terasa panjang dan sepi, kini terasa singkat karena diisi oleh obrolan yang tak ada habisnya. Kita berbicara tentang mimpi, tentang ketakutan, tentang hal-hal konyol, dan tentang hal-hal serius.
Dan di situlah letak keajaibannya. Bukan hanya karena dia tampan atau cantik di mata, tapi karena jiwanya. Cara dia berpikir, cara dia memperlakukan orang lain, cara dia tertawa, dan cara dia mendengarkan. Semua itu menyusup perlahan ke dalam relung hatiku, menetap, dan membangun istana yang begitu megah.
Aku belajar arti bahagia yang sesungguhnya. Bahagia bukan saat memiliki segalanya, tapi bahagia adalah saat melihat dia tersenyum, dan tahu bahwa senyum itu ada karena aku. Bahagia adalah saat merasa aman dan tenang hanya dengan berada di sisinya, tanpa perlu berkata apa-apa. Hening pun menjadi percakapan yang indah.
Tentu saja, jatuh cinta tidak selalu tentang pelangi dan bunga-bunga. Ada rasa takut yang selalu hadir di sela-sela kebahagiaan. Takut jika ini hanya mimpi, takut jika suatu saat hilang, takut jika tidak cukup baik. Tapi rasa takut itu justru membuktikan betapa berharganya perasaan ini. Karena sesuatu yang tidak berharga tidak akan pernah membuat kita takut kehilangannya.
Namun, aku memilih untuk berani. Berani merasakan, berani membuka hati, dan berani percaya. Karena rasanya... sungguh terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Jatuh cinta adalah keberanian terbesar yang pernah aku lakukan.
Sekarang, saat aku menuliskan ini, aku masih merasakan getaran yang sama seperti pertama kali bertemu. Cinta ini tumbuh bukan karena terpaksa, tapi karena memang harus tumbuh. Seperti matahari yang pasti terbit, seperti bulan yang pasti datang menemani malam, hatiku memilih dia.
Jatuh cinta adalah perjalanan paling indah yang pernah aku tempuh. Perjalanan yang tidak tahu kapan akan berakhir, dan aku tidak peduli. Karena selama aku bisa memegang tangannya, mendengar suaranya, dan melihat matanya, aku tahu aku ada di tempat yang paling tepat. Di sini, di dalam pelukan cinta yang hangat dan abadi.
Komentar
Posting Komentar