Cerpen Rasa Cinta yang Berbeda.

Cerpen Rasa Cinta yang Berbeda.
 
Hari-hari yang dilalui Dananjaya dan Sastra Dewi terasa seperti air yang menggenang di dalam wadah yang retak. Airnya ada, tapi tak lagi mengalir deras. Sudah bertahun-tahun mereka mengarungi bahtera rumah tangga, namun rumah yang mereka bangun terasa semakin dingin dan sunyi. Kehadiran mereka di satu atap seperti kebiasaan semata, bukan lagi karena hasrat untuk bersama. Tidak ada tawa renyah yang terdengar, tidak ada obrolan hangat di penghujung hari. Segalanya terasa datar, hambar, dan penuh dengan kebisuan yang memuakkan.
 
Akar permasalahan mereka satu yaitu tak kunjung hadirnya buah hati. Setiap bulan berharap hadirnya buah hati, lalu pupus lagi. Kekecewaan itu perlahan mengikis rasa sayang, berubah menjadi saling tuding dan saling menyalahkan, dan berujung pada pertengkaran yang tak ada habisnya. "Kamu kurang berdoa," begitu kira-kira sindiran yang terlontar dari bibir Dananjaya "Mungkin ada yang salah dengan dirimu," 
yang membuat hati semakin perih. Mereka seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi tempat tidur dan meja makan.
 
Di tengah kekeringan batin itulah, hadir sosok Ambarwati. Wanita itu berbeda. Dia membawa angin segar, senyum yang memikat, dan perhatian yang membuat Dananjaya merasa kembali menjadi laki-laki yang dihargai dan diinginkan. Tanpa sadar, hati Dananjaya terpikat. Awalnya hanya pelarian sesaat, obrolan ringan untuk melepas penat dari keributan di rumah. Namun, api yang didekatkan pada mesiu pasti akan meledak. Perselingkuhan itu terjadi, dan konsekuensinya datang lebih cepat dari dugaan. Ambarwati mengabarkan bahwa dia mengandung benih Dananjaya.
 
Berita itu bukan menjadi kabar gembira, melainkan bom waktu yang menghancurkan segalanya. Ketika kebenaran itu terbongkar, Sastra Dewi tidak menangis histeris atau memohon. Hatinya yang sudah lama mati rasa kini benar-benar membeku. Dengan suara tenang namun tegas, dia menatap suaminya. "Kita cerai," ucapnya singkat. Tidak ada tawar menawar, tidak ada penyesalan yang diterima. Baginya, kepercayaan yang sudah hancur tak mungkin direkatkan kembali, apalagi dengan bukti pengkhianatan yang kini tumbuh di dalam rahim wanita lain.
 
Sementara itu, Ambarwati tidak mau main-main. Dia tahu posisinya kuat karena mengandung anak yang selama ini didambakan Dananjaya. Dengan tegas dia menuntut, "Kau harus bertanggung jawab dan menikahiku." Dananjaya, yang merasa bersalah dan juga tersentuh oleh kabar kehamilan itu, akhirnya menuruti keinginan Ambarwati. Pernikahan kedua itu terjadi. Sastra Dewi pergi meninggalkan rumah yang dulu mereka bangun, membawa lukanya namun juga membebaskan dirinya dari penjara kesedihan.
 
Hari-hari berlalu. Sastra Dewi belajar menata kembali hidupnya yang hancur. Di tengah perjuangannya berdiri sendiri, takdir mempertemukannya kembali dengan sosok lama, Rey. Rey adalah teman masa sekolahnya yang dulu selalu ada, pendengar setia yang tak pernah bosan mendengar keluh kesahnya. Kali ini, kehadiran Rey bukan sekadar teman curhat. Ada perhatian tulus yang diberikan tanpa syarat, ada rasa nyaman yang tumbuh perlahan namun pasti. Rey menerima Sastra Dewi apa adanya, termasuk masa lalunya yang kelam.
 
Cinta mereka tumbuh subur di tanah yang subur rasa saling menghargai. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menikah. Meski takdir sepertinya masih belum mengizinkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga mereka, namun kekosongan itu sama sekali tidak terasa. Hubungan mereka begitu harmonis, penuh canda, saling pengertian, dan hangat. Kehadiran satu sama lain sudah cukup menjadi alasan untuk bahagia. Bagi Sastra Dewi, inilah definisi rumah yang sesungguhnya; tempat di mana dia dicintai sepenuhnya.
 
Di tempat lain, waktu pun menunjukkan jawabannya. Ambarwati telah melahirkan. Seorang bayi laki-laki yang sangat tampan, sehat, dan sempurna lahir ke dunia. Tangisan bayi itu memenuhi rumah Dananjaya. Mata Dananjaya berbinar-binar melihat anaknya, impiannya selama ini akhirnya terwujud. Dia dan Ambarwati tampak sangat bahagia, merayakan kehadiran ahli waris yang telah lama mereka nantikan. Segalanya terlihat sempurna di mata dunia, sebuah kebahagiaan yang terbayar lunas dengan hadirnya sang buah hati. Namun, entah mengapa, terkadang di sudut hatinya yang terdalam, Dananjaya sering teringat pada senyum tenang Sastra Dewi dan kehangatan yang dulu pernah ada, kini hanya tinggal kenangan yang tak mungkin kembali.

Komentar