Cerpen Semesta Sedang Membentukmu.

Cerpen Semesta Sedang Membentukmu.
 
Ada masa ketika aku bertanya, mengapa begitu banyak yang harus pergi dari hidupku. Satu per satu, seolah semesta sedang menyapu bersih segala yang pernah kususun rapi, segala yang pernah kujaga dengan segenap hati. Harapan yang pernah kujaga bagai bunga rapuh di taman hati, perlahan layu dan hilang tertiup angin waktu. Rencana yang pernah kususun dengan rinci, seolah aku pemimpin atas jalanku sendiri, runtuh satu per satu seperti tembok yang tak sanggup menahan badai. Kebahagiaan yang pernah kupeluk erat, rasanya baru kemarin aku merasakan hangatnya, kini terasa jauh, seperti kenangan yang perlahan memudar warnanya. Bahkan seseorang yang sangat kucintai, sosok yang menjadi pusat duniaku, yang kuanggap akan berjalan bersamaku sampai ujung jalan, akhirnya juga harus melangkah pergi, meninggalkan ruang kosong yang begitu luas di dada.
 
Awalnya aku mengira kehilangan adalah akhir. Bahwa setelah segala hal yang berharga itu pergi, hidupku takkan pernah utuh lagi. Aku merasa dikhianati oleh takdir, merasa semua usahaku sia-sia, merasa bahwa aku adalah orang yang paling sial, yang selalu kehilangan apa pun yang paling ia sayangi. Berhari-hari aku hanya diam, duduk di sudut ruangan, menatap ruang kosong yang ditinggalkan mereka, meratapi apa yang sudah tiada, menangisi apa yang tak bisa kembali. Aku pikir, kehilangan adalah hukuman, adalah bukti bahwa aku tak cukup baik, tak cukup beruntung, atau tak layak memiliki kebahagiaan. Aku mengira, saat segala sesuatu yang melekat padaku terlepas, itu berarti aku sedang dihancurkan, dirobohkan sampai tak tersisa apa pun yang berharga.
 
Namun waktu mengajarkan sesuatu yang berbeda. Waktu yang perlahan berjalan, tanpa terburu-buru, seperti air yang mengalir tenang dan akhirnya melunakkan batu yang paling keras sekalipun. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan luka yang tadinya terasa perih setiap kali bernapas, perlahan berubah menjadi kenangan yang tak lagi menyakitkan, melainkan menjadi bagian dari diriku yang tumbuh. Aku mulai melihat, bahwa tidak semua yang terlepas adalah hukuman. Bahwa tidak semua yang runtuh adalah kehancuran. Ada hal-hal yang memang harus dilepaskan, bukan karena kita tak mampu memegangnya, tapi karena hal itu sudah selesai tugasnya dalam hidup kita, atau karena hal itu hanya akan menghalangi kita menuju tempat yang seharusnya kita tuju. Ada rencana yang runtuh, bukan karena gagal, tapi karena semesta punya rencana lain yang jauh lebih besar, yang tak pernah terbayang oleh pikiran kecilku.
 
Kadang hidup membawa kita ke sebuah ruang sunyi, tempat banyak hal yang selama ini melekat perlahan luruh. Ruang yang sepi, yang tak ada suara, tak ada gangguan, tak ada apa pun yang biasa kita jadikan pegangan. Di sana, saat kita sendirian dengan diri sendiri, saat tak ada lagi orang yang menopang, tak ada lagi harapan yang menggantung, tak ada lagi rencana yang dituju, kita dipaksa untuk melihat apa yang sebenarnya ada di dalam diri kita. Segala yang menempel, segala yang kita anggap bagian dari diri kita—sifat, kebiasaan, pandangan, bahkan keinginan orang lain terhadap kita—semuanya perlahan terkelupas satu per satu, sampai yang tersisa hanya inti yang paling murni. Bukan untuk membuat kita kosong, bukan untuk mengosongkan hidup kita sampai tak ada apa pun, melainkan agar kita mengenal diri yang tetap ada ketika semuanya berubah. Agar kita tahu, siapa kita sebenarnya, saat tak ada lagi yang mendefinisikan kita.
 
Aku tidak tahu bentuk akhir dari perjalanan ini. Aku tak tahu ke mana jalan ini akan membawaku, apa yang akan kutemukan di ujung sana, apakah bahagia atau lagi-lagi kehilangan. Aku tak tahu apakah semua yang terjadi ini akan berujung pada sesuatu yang indah, atau apakah proses ini masih akan panjang dan penuh rintangan. Aku hanya tahu, setelah begitu banyak yang hilang, ada sesuatu dalam diriku yang justru menjadi lebih jernih. Dulu aku bingung, penuh keraguan, mudah terpengaruh oleh apa yang orang katakan, apa yang dunia anggap benar. Kini, pikiranku lebih tenang, lebih jelas melihat apa yang benar-benar penting, apa yang bernilai, dan apa yang hanya sekadar kebisingan semata.
 
Aku menjadi lebih tenang. Dulu hal-hal kecil bisa membuatku gelisah, membuatku marah, membuatku sedih berhari-hari. Kini, saat hal buruk terjadi, saat rencana gagal, saat orang pergi, aku tak lagi meronta, aku tak lagi bertanya "kenapa aku?", aku hanya menerima, dan melangkah pelan. Aku tahu bahwa segala sesuatu ada masanya, dan segala yang terjadi punya maknanya sendiri. Aku menjadi lebih lembut. Dulu aku keras, kaku, ingin segala hal berjalan sesuai keinginanku, dan kecewa saat tak sesuai rencana. Kini aku lebih bisa memahami, baik orang lain maupun diriku sendiri. Aku belajar memaafkan, baik mereka yang pergi, maupun diriku yang dulu merasa bersalah karena kehilangan. Aku belajar berdamai dengan segala ketidaksempurnaan, baik di luar maupun di dalam diri.
 
Dan aku menjadi lebih dalam. Lebih mengerti rasa sakit, lebih mengerti kehilangan, lebih mengerti arti kehadiran dan arti perpisahan. Aku tak lagi melihat hal-hal di permukaan saja, aku tak lagi menilai sesuatu hanya dari apa yang terlihat mata. Aku tahu, di balik setiap perpisahan ada pertemuan baru yang sedang disiapkan, di balik setiap kehancuran ada pembangunan yang sedang berlangsung, di balik setiap kehilangan ada keuntungan yang tak terlihat saat itu juga. Dan mungkin memang ada hal-hal yang hanya bisa ditemukan setelah kita kehilangan apa yang paling kita cintai. Keberanian untuk berdiri sendiri, kekuatan untuk melanjutkan hidup, kebijaksanaan untuk memahami hidup, dan rasa syukur yang jauh lebih besar atas segala hal kecil yang dulu sering kuanggap biasa saja.
 
Maka hari ini aku tidak lagi sibuk mencari alasan. Aku tak lagi bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi, mengapa orang itu pergi, mengapa rencana itu gagal. Aku berhenti mencari jawaban yang tak akan pernah kutemukan, atau yang baru akan terjawab jauh di masa depan. Aku memilih berjalan. Melangkah terus, meski jalannya kadang sepi, kadang berbatu, kadang terasa begitu berat. Melangkah tanpa menoleh terus ke belakang, tanpa meratapi apa yang sudah hilang, tanpa khawatir berlebih pada apa yang belum ada.
 
Sebab meski aku belum mengerti ke mana jalan ini bermuara, aku dapat merasakan bahwa setiap yang terlepas sedang membuka ruang bagi sesuatu yang belum mampu kulihat. Setiap hal yang pergi, setiap harapan yang patah, setiap rencana yang runtuh, semuanya sedang menyingkirkan apa yang tak lagi pas, apa yang tak lagi cocok, apa yang hanya akan menahanku di tempat. Dan di ruang yang kosong itu, semesta sedang menaruh sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih indah, sesuatu yang lebih pas, sesuatu yang memang ditakdirkan untukku.
 
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak takut pada proses itu. Aku tak lagi takut kehilangan, aku tak lagi takut berubah, aku tak lagi takut masa depan yang belum kuketahui. Aku percaya, bahwa semesta sedang membentukku, sedang menempa diriku menjadi sosok yang lebih kuat, lebih bijak, lebih utuh. Seperti emas yang harus dibakar api agar bersinar murni, seperti batu yang harus dipahat agar menjadi patung yang indah, aku tahu bahwa setiap rasa sakit, setiap kehilangan, setiap perubahan, adalah bagian dari cara semesta membuatku menjadi diri yang seharusnya ada. Dan aku siap menerima apa pun hasilnya, karena aku tahu, proses ini bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menyempurnakan.

Komentar