Cerpen Kehancuran Membawaku Lebih Dekat dengan Tuhan
Cerpen Kehancuran Membawaku Lebih Dekat dengan Tuhan
Dulu, aku memegang teguh satu keyakinan yang kian lama kian ku yakini sebagai kebenaran mutlak. Aku mengira keyakinan itu adalah pagar kokoh yang mengelilingi hidupku, tembok tinggi yang akan melindungiku dari segala bahaya, kesusahan, dan kepahitan dunia. Aku berpikir, selama aku berjalan di jalan yang benar, selama aku rajin beribadah, selalu dekat dengan Tuhan, maka badai kehidupan akan segan mengetuk pintuku. Aku membayangkan, hubungan dekat dengan Sang Pencipta adalah jaminan keselamatan, seolah doa-doa yang ku panjatkan adalah tameng yang tak bisa ditembus, dan kebaikan yang ku tanam adalah mata uang yang bisa menukar takdir menjadi sesuatu yang lembut, indah, dan penuh kebahagiaan.
Aku percaya, ketulusan hati, doa yang panjang, dan segala kebaikan yang ku berikan pada sesama dan pada kehidupan, sudah cukup untuk membuat takdir berpihak padaku. Aku kira, hidup itu sederhana: berbuat baik, berdoa, percaya, lalu bahagia akan datang terus-menerus. Aku membangun seluruh duniaku di atas pemikiran itu, merasa aman, merasa terlindungi, seolah tidak ada hal buruk yang berani menyentuhku. Namun ternyata, hidup tidak pernah berjalan sesederhana harapanku sendiri. Kenyataan datang dengan cara yang paling keras, paling menyakitkan, dan paling meruntuhkan segala yang pernah ku bangun.
Badai itu tetap datang. Tidak memberi aba-aba, tidak memberi waktu untuk bersiap, tidak memberi kesempatan untuk berlindung. Ia datang tiba-tiba, menghantam segala yang ada di hadapanku dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Badai itu merenggut banyak hal yang paling aku cintai, hal-hal yang menjadi alasan aku bernapas, alasan aku tersenyum, dan alasan aku merasa hidup ini indah. Satu per satu hal berharga itu hilang dari genggamanku, diambil begitu saja seolah tidak ada harganya. Dan yang paling perih, badai itu juga merobohkan keyakinan yang selama ini aku banggakan, keyakinan yang ku kira akan menjadi tempatku berteduh selamanya. Dinding pelindung yang ku bangun perlahan runtuh, berubah menjadi puing-puing yang tajam, yang malah melukai diriku sendiri saat aku mencoba menopangnya agar tetap berdiri.
Di titik paling hancur dalam hidupku, saat segalanya terasa gelap dan tak ada jalan keluar, aku mulai menengadah, bertanya pada langit yang tampak begitu sunyi. Kenapa ya Tuhan, doa-doa yang ku ucapkan terasa begitu sunyi, seolah tidak ada yang mendengarnya? Kenapa harapan-harapan yang ku simpan rapi di hati, seolah dijawab hanya dengan kehilangan yang bertubi-tubi? Dan kenapa aku, yang sudah bersungguh-sungguh bertahan, yang sudah berusaha sekuat tenaga untuk berbuat benar, tetap harus dipatahkan, tetap harus merasakan perihnya kehancuran ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar terus di kepalaku, tidak ada jawaban, hanya ada kesunyian yang makin menyesakkan dada. Aku pernah marah, sangat marah pada keadaan, pada takdir, dan pada-Nya. Aku pernah meragukan segalanya, meragukan keyakinan yang selama ini menjadi pegangan hidupku. Aku pernah merasa Tuhan begitu jauh, begitu asing, saat hidupku runtuh perlahan di depan mata, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menontonnya hancur lebur. Rasanya, Dia ada di tempat yang sangat tinggi, sangat jauh, tidak bisa dijangkau, sementara aku terperangkap di sini, di tengah reruntuhan hidupku, sendirian dan tak berdaya.
Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya aku hanya duduk diam di antara puing-puing hatiku. Aku memandangi diriku sendiri, sosok yang dulu merasa utuh, kuat, dan penuh harapan, kini terlihat remuk, hancur, dan tidak lagi utuh. Semua yang ku miliki, semua yang ku bangun, semua yang ku percaya, seolah lenyap tak berbekas. Di tengah kesepian dan kepedihan itu, di saat aku merasa paling rendah dan paling hancur, perlahan tapi pasti, aku mulai menyadari satu hal yang sangat mendalam. Ternyata, manusia memang baru benar-benar mencari Tuhan saat semua tempat bersandar di dunia ini tidak lagi mampu menahannya. Saat kekuatan diri sendiri habis, saat dukungan orang lain lenyap, saat harta, jabatan, dan segala hal duniawi tak lagi berarti, barulah kita sadar bahwa hanya Dia satu-satunya tempat berlindung yang nyata.
Kehancuran ini tidak membuatku menjadi orang yang suci, tidak membuatku tiba-tiba menjadi lebih saleh atau lebih sempurna. Kehancuran ini justru membuatku menjadi lebih jujur pada diriku sendiri dan pada-Nya. Aku menjadi sadar sepenuhnya bahwa aku ini lemah, sangat lemah. Bahwa aku bisa kecewa, bisa marah, bisa menangis tersedu-sedu, bahkan bisa meragukan, namun di balik semua itu, aku tetap percaya, tetap ingin mencari jalan kembali pada-Nya. Aku belajar bahwa percaya itu bukan berarti selalu mengerti rencana-Nya, bukan berarti tidak pernah merasa sakit atau kecewa. Percaya itu adalah tetap bertahan, tetap memegang tangan-Nya, meski air mata masih terus menetes, meski hati masih terasa perih dan terluka.
Sekarang, setelah waktu berlalu dan luka itu perlahan mulai mengering, aku mulai mengerti makna di balik semua kejadian pahit itu. Aku mulai paham, bahwa keyakinan itu bukan tentang menjalani hidup tanpa luka, tanpa masalah, atau tanpa kehilangan. Keyakinan adalah kemampuan untuk tetap berjalan melangkah, tetap berdiri tegak, tetap berusaha berbuat baik, meski hati kita penuh dengan retakan, meski bekas luka masih terasa nyeri.
Dan mungkin, akhirnya aku mengerti satu hal terbesar dari semua ini. Bahwa Tuhan tidak selalu menenangkan badai yang datang dalam hidupku. Kadang, Dia membiarkan badai itu datang, membiarkan aku terhantam, membiarkan aku hancur, bukan karena Dia tidak sayang, bukan karena Dia tidak mendengar doaku, melainkan agar aku berhenti bersandar pada dunia. Agar aku sadar bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya sementara, bisa hilang dan hancur kapan saja. Agar aku perlahan melepaskan segala harapan yang ku gantungkan pada manusia, pada keadaan, atau pada diriku sendiri, dan kembali bersandar hanya kepada-Nya. Karena hanya pada-Nya lah tempat kembali yang sejati, tempat di mana kehancuran pun akhirnya berubah menjadi jalan untuk mendekat kembali.
Komentar
Posting Komentar