Cerpen Harga Diri yang Tak Terjual.

Harga Diri yang Tak Terjual
Oleh Made Budilana.
 
Di sebuah gang sempit di pinggiran kota Denpasar, tinggal seorang pria bernama Made. Ia menghuni rumah kayu sederhana yang dibangun dengan tangannya sendiri, dikelilingi oleh kebun kecil yang dirawat dengan penuh cinta. Setiap pagi, Made pergi bekerja sebagai tukang kebun, bergantung pada apa yang ada di sekitarnya.
 
Ia hanya orang yang tidak terlalu dikenal di lingkungan itu – tidak memiliki rumah mewah, tidak mengenakan pakaian bergaya, dan tidak pernah muncul dalam acara-acara kemewahan. Namun, wajahnya selalu terpancarkan kedamaian yang dalam.
 
Suatu hari, seorang pengusaha kaya dari daerah kota datang ke kampungnya untuk mencari orang yang bersedia bekerja sebagai pengawal pribadi sekaligus pembantu khusus. Ia menawarkan gaji yang sangat besar, jauh lebih banyak dari apa yang bisa Made peroleh dari pekerjaannya sehari-hari. Namun, saat memberikan penawaran, pengusaha itu menyampaikan syaratnya: Made harus bersedia mengikuti setiap perintahnya, termasuk hal-hal yang mungkin menyimpang dari kaidah kebenaran dan menghina martabat orang lain demi kepentingan bisnisnya.
 
Made mendengarkan dengan tenang, kemudian menggeleng perlahan. "Bapak," katanya dengan suara yang lembut namun tegas, "harga diri saya tidak bisa dibeli. Kekurangan harta bukan alasan untuk kehilangan martabat. Saya hidup dari keringat sendiri, menjaga hati dan pikiran agar tetap jujur. Saya mungkin tak punya kemewahan, namun saya punya prinsip yang saya pegang teguh."
 
Pengusaha itu sedikit terkejut dengan jawaban itu. Ia mencoba membujuk dengan menawarkan tambahan uang dan janji kedudukan yang lebih baik, namun Made tetap tidak goyah. "Saya tidak iri pada rejeki orang, dan tidak menjilat demi keuntungan," lanjut Made. "Kemiskinan bukan aib, yang memalukan adalah ketika manusia menjual harga dirinya demi pujian, harta dan kepentingan."
 
Tanpa berkata lagi, Made kembali ke pekerjaannya membersihkan kebun tetangganya. Pengusaha itu akhirnya pergi dengan hati yang tergerak. Tak lama kemudian, cerita tentang prinsip yang teguhnya mulai menyebar di kampung itu. Banyak orang yang mulai melihat Made bukan sebagai orang miskin yang tidak berharga, melainkan sebagai sosok yang memiliki kekayaan sejati yang tak bisa diukur dengan uang.
 
Hingga kini, Made masih hidup dengan cara yang sama – bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga integritas dirinya, dan menjadi contoh bahwa martabat manusia terletak pada prinsip yang dipegang, bukan pada jumlah harta yang dimiliki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senja di Pantai Kapal Tejakula.

Cinta di Bawah Bukit Batu Kursi

Asmara Di Pantai Seririt.