Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Asmara Di Kintamani.

Di lereng Gunung Batur, di sebuah desa kecil yang tersembunyi di antara hamparan kebun kol dan sayur hijau yang hijau menyala, tinggal seorang wanita bernama Kadek Ayu. Usianya dua puluh lima tahun, wajahnya seperti bunga melati yang baru mekar di pagi hari, dan tangannya yang kuat telah terbiasa bekerja di kebun milik keluarganya sejak masih muda. Setiap pagi, sebelum matahari mulai memanaskan permukaan tanah Kintamani, dia sudah berada di kebun dengan keranjang rotan di pundaknya, memilih kol terbaik yang berdaging padat dan sayur hijau yang segar. Suara burung yang berkicau dari pepohonan beringin tua menjadi irama hariannya, dan udara segar yang bercampur aroma sayuran segar serta tanah vulkanik selalu membuat hatinya merasa tenang. Hingga suatu pagi, ketika kabut masih menyelimuti bagian atas danau Batur yang luas, dia melihat sosok seorang pria sedang berdiri di tepi sawah, memegang kamera dengan lensa besar, menangkap pemandangan matahari yang mulai muncul dari balik puncak gunu...

Malam Di Kampung Pajarakan.

Aku dan tiga temanku – Rina, Budi, dan Dimas – memutuskan untuk menjelajahi Kampung Pajarakan, desa terpencil di lereng Gunung Agung yang hanya terdengar dari cerita nenek moyang. Jalan hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki dua jam melalui hutan lebat, dan saat kita sampai di pinggir desa menjelang sore, udara jadi sangat dingin, berbeda dengan panasnya Bali siang hari. Tanah lembap berbau tanah basah menyengat, rumah-rumah kayu bambu tua sebagian roboh dan ditutupi lumut hijau pekat. Tak ada satu pun nyala lampu, padahal belum jam delapan malam.   "Kok kayak tidak ada orang ya?" bisik Rina sambil menggenggam lenganku erat. Budi tersenyum sinis. "Mungkin mereka sudah tidur duluan. Ayo cari tempat beristirahat." Kita menemukan rumah besar di tengah desa yang lebih terawat. Pintu kayu sedikit terbuka, dan dari dalam terdengar suara gemericik air yang aneh. Dimas mendorong pintu dan masuk dulu. "Sini cepat! Ada ruangan yang bisa kita gunakan!"   Ketika kita...

Asmara Di Desa Tejakula.

Cerpen Asmara Di Desa Tejakula Oleh Made Budilana  (Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama dan tempat, itu suatu kebetulan belaka. Tidak ada unsur kesengajaan) Di lereng sebelah utara Gunung Batur, di mana sawah hijau membentang seperti kain bersulam dan pepohonan kelapa berdiri tegak seperti penjaga setia, terdapat sebuah desa yang bernama desa Tejakula. Desa yang dikenal dengan tanah suburnya dan keramahan penduduknya ini menyimpan cerita asmara yang telah menjadi legenda di antara warganya.   Pada musim kemarau tahun 1998, ketika matahari mulai menyinari hamparan sawah yang siap untuk dipanen, seorang pemuda bernama Gede sedang membajak tanah bersama ayahnya. Gede berusia dua puluh tahun, tubuhnya kekar akibat bekerja di ladang setiap hari, dan senyumnya hangat seperti sinar matahari pagi. Ia adalah anak sulung keluarga petani yang telah mengolah tanah di desa ini selama beberapa generasi.   Saat ia beristirahat di bawah naungan pohon pepaya yang tum...